400 Hektare Lahan Ditanami Jengkol

0
899 views

SERANG – Pemprov Banten menargetkan pada 2026, Provinsi Banten menjadi sentra perkebunan jengkol di Indonesia. Untuk merealisasikan target tersebut, tahun ini mulai dilakukan penanaman ribuan bibit jengkol di Kabupaten Lebak dan Pandeglang.


Hal itu terungkap dalam rapat koordinasi penanaman bibit pohon jengkol di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Banten, KP3B, Rabu (22/1). Hadir dalam rapat tersebut, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Babar Suharso, Kepala Dinas Pertanian Agus Tauchid dan Kepala DLHK M Husni Hasan.


Usai rapat, Kepala DLHK Banten M Husni Hasan mengatakan, sesuai arahan Gubernur Banten Wahidin Halim, DLHK telah menyiapkan lahan yang tepat untuk perkebunan pohon jengkol.

“Kita sudah siap lahan seluas 400 hektare di Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak. 300 hektare milik Perhutani dan 100 hektare milik masyarakat. Sementara yang di Pandeglang lokasinya dekat Gunung Karang masih proses,” kata Husni kepada wartawan.


Untuk lahan milik Perhutani, Husni mengaku pihaknya sudah melakukan koordinasi dan sudah ada kesepakatan mengelola perkebunan jengkol. Sedangkan lahan milik masyarakat, itu sesuai dengan permintaan masyarakat. “Beberapa waktu lalu, gabungan kelompok petani (Gapoktan) di Kabupaten Lebak mengaku siap menanam pohon jengkol di lahan mereka,” ungkapnya.


Terkait penanaman bibit jengkol, Husni mengaku itu tugas Dinas Pertanian. “DLHK hanya menyiapkan lahannya saja, akhir bulan ini kami akan ke lokasi bareng Dinas Pertanian dan instansi terkait lainnya,” ungkapnya.


Kepala Dinas Pertanian Banten Agus Tauchid mengatakan, penanaman bibit jengkol paling lambat dimulai pertengahan tahun 2020 lantaran ketersediaan bibit jengkol baru ada pada Juni mendatang. “Satu hektare ditanami 250 pohon jengkol. Sementara lahan yang sudah siap tanam seluas 400 hektare di Kabupaten Lebak. Jadi kami butuh banyak bibit jengkol yang berkualitas,” ungkapnya.


Anggaran pembelian bibit, lanjut Agus, dialokasikan dalam APBD Banten 2020 sebesar Rp165 juta.

“Kita inginnya cepat karena lahannya sudah siap. Namun karena pembelian bibitnya tidak bisa sembarangan, kami harus menunggu bibit jengkol yang super tersedia,” ungkapnya.


Dengan kualitas bibit yang super, diperkirakan pohon jengkol telah bisa dipanen pada 2026.

“Kalau ditanam 2020, kita panen 2026. Sebab bibit super bisa berbuah enam tahun sejak ditanam,”‘paparnya.


Untuk para petani jengkol yang bekerja sama dengan Pemprov Banten, Agus mengaku tidak perlu menunggu waktu enam tahun menikmati hasil perkebunan, sebab melakukan sistem tumpang sari.

“Kita lakukan tumpang sari di lahan perkebunan jengkol. Bisa dengan menanam padi gogo maupun tanaman lainnya. Jadi para petani bisa menikmati hasil perkebunan setiap tahun sambil menunggu jengkol panen perdana,” ujarnya.


Agus membeberkan, pohon jengkol dipilih Pemprov karena mudah ditanam dan bisa menghijaukan lingkungan. Selain itu, pohon jengkol juga tidak perlu perawatan khusus saat menanamnya.

“Secara ekonomis harganya juga sangat tinggi. Saat ini per kilonya mencapai Rp40 ribu. Padahal harga daging ayam hanya Rp25 ribu per kilonya,” jelasnya.


Pada 2026, Agus mengaku optimis Banten bisa mengekspor jengkol hingga ke berbagai negara seperti Korea dan Jepang.

“Itu nanti urusan Disperindag, bahkan bisa jadi akan dikelola BUMD Agrobisnis untuk memasarkan jengkol milik Pemprov Banten,” pungkasnya. (Deni S)