415 Siswa SMP di Lebak Putus Sekolah

0
1951
Sejumlah siswa mengikuti simulasi belajar tatap muka di SMP Negeri 7 Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin (16/11/2020). Berdasarkan surat pernyataan orang tua dan persetujuan guru, Pemerintah Kota Banjarmasin melakukan simulasi belajar tatap muka pertama sejak pandemi COVID-19, selama dua minggu di empat sekolah menengah pertama (SMP) di mana lokasi sekolah berada di zona hijau berdasarkan penilaian Gugus Tugas dengan jumlah siswa terbatas serta wajib mematuhi protokol Kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/hp.


LEBAK – Sebanyak 415 siswa SMP di Kabupaten Lebak putus sekolah selama masa pandemi Covid-19. Tidak hanya itu, hasil pendataan Dinas Pendidikan (Dindik) sampai dengan Februari 2021 ada 3.869 siswa yang tidak aktif belajar daring maupun luring.
Kepala Dindik Lebak Wawan Ruswandi menyatakan, ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak SMP di Lebak putus sekolah. Diantaranya, akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Sehingga, mereka kebanyakan memilih untuk bekerja membantu ekonomi orangtuanya. Namun, ada pula yang ke pesantren.
“Iya, kita prihatin dengan kondisi anak-anak selama pandemi. Mereka akhirnya putus sekolah dan jika dipersentasekan mencapai 1,09 persen dari seluruh siswa SMP di Lebak,” ungkap Wawan kepada Radar Banten, kemarin.
Terkait siswa yang tidak aktif belajar luring maupun daring mencapai 3.869 orang dan tersebar hampir di semua kecamatan. Mereka tidak putus sekolah dan diharapkan akan terus melanjutkan pendidikan setelah kondisi pandemi terkendali. Sehingga, sekolah bisa kembali melakukan pembelajaran tatap muka secepatnya.
“Harapannya, tahun ajaran baru semua sekolah di Lebak bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka. Ini untuk memantik semangat belajar siswa di Lebak,” tegasnya.
Ditanya data siswa SD yang putus sekolah, Wawan mengaku, sampai sekarang Dindik belum melakukan pendataan terhadap siswa SD. “Baru siswa SMP saja, sedangkan yang SD belum ada pendataan,” terangnya.(Mastur)