42 Siswa SMPN Kramatwatu Terjangkit Creeping Eruption

0
476
Wakil Kepala SMP Negeri 3 Kramatwatu meninjau lokasi outbond di belakang sekolah, diduga di dalam pasir terdapat larva cacing berbahaya, Kamis (17/11).

KRAMATWATU – Sebanyak 42 siswa SMPN 3 Kramawatu, Desa Harjatani, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, terjangkit penyakit creeping eruption yang ditimbulkan dari larva cacing atau cutanus larva migrans (CLM). Penyakit tersebut menyerang setelah siswa melakukan kegiatan outbond di lingkungan sekolah dan menggunakan pasir, pekan lalu.

Penyakit ini dari jenis ancylostoma brazilians yang bersarang di dalam pasir sisa kotoran hewan. Puluhan siswa sudah ditangani Puskesmas Kramatwatu dan langsung diberikan obat albendazole dengan pola pengobatan symptomatic.

Menurut Wakil Kepala SMPN 3 Kramatwatu Agung Supriyanto, wabah penyakit yang ditularkan dari cacing tersebut kemungkinan besar karena pasir yang dipakai di tempat outbond bercampur sisa kotoran. Outbond dilaksanakan oleh Palang Merah Remaja (PMR) SMPN 3 Kramatwatu yang dikuti oleh 45 siswa kelas VII.

Namun, dari seluruh peserta yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, ada 42 siswa yang terkontaminasi serangan cacing ancylostoma brazilians. “Kegiatan itu sebetulnya sebagai bentuk intermezo dari pembina PMR agar para siswa yang ikut merasa ada hiburan juga. Baru kali ini ada kejadian luar biasa,” kata Agung kepada Radar Banten di sekolah, Kamis (17/11).

Menurutnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten langsung membantu pengobatan siswa yang terjangkit penyakit yang disebut cacing impor tersebut. “Bahkan katanya dari Kementerian Kesehatan juga akan langsung datang memantau ke sekolah ini,” kata Agung.

Kata Agung, penyakit tersebut menyerang lantaran panitia tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu media yang akan dijadikan sebagai sarana outbond. Setelah outbond, siswa merasakan bentol-bentol dan ada juga yang tidak langsung. “Ini peringatan kepada kami agar ke depan bisa berhati-hati lagi dalam melaksanakan kegiatan. Alhamdulillah sekarang para siswa sudah mulai aktif belajar kembali di sekolah,” ucapnya.

Menurutnya, para siswa hanya dilakukan perawatan jalan, tidak diopname di puskesmas atau rumah sakit. “Hanya berobat jalan saja dan diberikan resep oleh dokter ahli spesialis dari puskesmas dan rumah sakit. Biaya pengobatan semua siswa itu ditanggung sekolah,” ujarnya.

Atas kejadian tersebut, kata Agung, banyak orangtua siswa yang melakukan protes kepada pihak sekolah. Namun, setelah dijelaskan, semua saling memahami. “Karena ini adalah musibah dan bukan unsur yang disengaja oleh pihak sekolah. Kita akan berhati-hati dalam menjaga pola hidup sehat dan bersih di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Derliana Kartika Sari, dokter fungsional Puskesmas Kramatwatu yang menangani para siswa yang terjangkit, mengatakan, penyakit berasal dari larva cacing jenis ancylostoma brazilians yang biasanya bersarang pada sampah atau kotaran hewan di dalam pasir dan tanah.

“Cacing itu menempel pada kulit siswa yang bermain di pasir yang terindikasi ada sisa kotoran hewan di dalamnya. Sehingga kulit siswa dari mulai kedua tangan, kedua kaki, dan sebagian perut jadi gatal-gatal dan berwarna merah,” jelasnya.

Gejala pertama yang dialami penderita adalah gatal dan menimbulkan bentolan kecil. “Bentolan membentuk seperti cacing yang sedang berjalan. Penyakit seperti ini dipastikan tidak akan masuk ke dalam organ tubuh manusia, hanya pada kulit saja.
Ia memastikan, penyakit tersebut bisa disembuhkan. Dengan penanganan medis dan pemberian obat yang adaptif dan tepat, penyakit itu segera hilang,” ujarnya.

Menurut Surveilans dan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2BB) Puskesmas Kramatwatu, Fio Marini, di Kecamatan Kramatwatu pernah terjadi serangan penyakit ini. “Namun, tidak sebanyak yang dilalami oleh SMPN 3 Karamatwatu. Alhamdulillah dengan pertolongan medis yang tepat, langsung tertangani dengan baik. Ke depan, kita harus terus menjaga kebersihan lingkungan sekitar agar terhindar dari terkontaminasi penyakit yang sama,” ujarnya. (SHOGIR/Radar Banten)