631 Warga Kabupaten Serang Alami Gangguan Jiwa, Padarincang Mendominasi

SERANG – Jumlah kasus orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) di Kabupaten Serang hingga akhir 2017 tercatat mencapai 631 orang, tersebar di 29 kecamatan. Kecamatan Padarincang menjadi penyumbang terbanyak ODGJ dengan 73 orang. Ratusan ODGJ tersebut saat ini masih dalam penanganan intensif tim kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang Sri Nurhayati memastikan, penderita gangguan jiwa masih bisa sembuh total. Dengan catatan, asalkan adanya kerja sama dari pihak keluarga, serta lingkungan sekitar penderita gangguan jiwa tersebut.

“Kalau keluarganya mendukung dan men-support, terus kooperatif. Kemudian, pasiennya juga patuh meminum obat, penyembuhannya saya kira bisa 100 persen. Jadi, memang harus didukung,” terang Sri saat dihubungi Radar Banten melalui sambungan telepon, Senin (2/4).

Sebaliknya, kata Sri, ketika pihak keluarga dan lingkungan tidak mendukung walaupun petugasnya proaktif, diyakini Sri, proses penyembuhan ODGJ tidak akan maksimal. Berdasarkan data yang dimiliki Sri dari 31 puskesmas, angka kasus ODGJ di Kabupaten Serang cukup tinggi. Mayoritas orang menderita gangguan jiwa dipengaruhi faktor ekonomi.

“Sampai akhir 2017 tercatat ada 631 ODGJ tersebar di 29 kecamatan. Terbanyak di Padarincang dengan 73 penderita. Disusul Carenang 37 penderita, Kopo 36 penderita, Jawilan 35 penderita, dan Tirtayasa 34 penderita,” ungkapnya.

Sri mengaku, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan penanganan ODGJ. Namun diakui Sri, sampai saat ini masih banyak pihak keluarga malu melaporkan anggota keluarganya yang mengalami gangguan kejiwaan. Hasil sosialisasi penanganan ODGJ, kata Sri, sebagian besar warga menyatakan sudah tidak malu untuk melapor ketika ada keluarganya yang mengalami gangguan jiwa hingga dipasung. “Tapi, masih ada saja ODGJ yang diumpetin keluarganya karena menganggap hal itu sebagai aib. Padahal itu salah,” ucapnya.

Sri pun meminta warga agar tidak malu melaporkan keluarganya yang mengalami gangguan kejiwaan kepada petugas kesehatan agar dapat segera ditangani. Kata Sri, sebagian mantan ODGJ sudah bisa disembuhkan dan menjalani hidup layaknya orang normal di lingkungannya masing-masing. Dijelaskan Sri, perasaan ODGJ lebih sensitif. Ketika mendapat dukungan keluarga dan menerimanya dengan senang hati, serta terus memberikan pendampingan akan membawa pengaruh positif buat penderita. “Banyak yang dulunya dipasung sekarang sudah menikah, kerja, punya anak, dan hidup layaknya warga biasa. Jadi, tergantung support keluarganya,” jelasnya.

Ia pun mengimbau warga untuk memberikan pendidikan agama kepada anak sejak usia dini. Hal itu agar mental anak terbangun sejak dini di tengah era modernisasi saat ini. “Sekarang tantangan lebih berat. Kalau enggak kuat mental bisa stres karena enggak bisa mengikuti perkembangan zaman,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Ciomas Saepudin menyatakan bahwa jumlah ODGJ di wilayahnya mengalami penurunan. Sebagian penderita gangguan jiwa sudah dinyatakan sembuh total usai setelah mendapatkan layanan pengobatan secara intensif.

“Masyarakat sekarang sudah terbuka. Kalau dulu dinyatakan aib buat warga. Sekarang, sudah tidak ada anggapan seperti itu lagi,” tegas Saepudin yang ditemui di ruang kerjanya.

Puskesmas Ciomas, kata Saepudin, sudah memiliki layanan kesehatan khusus bagi penderita ODGJ yang buka setiap Rabu, serta memfasilitasi pengobatan terapi kesehatan yang masuk agenda rutin Puskesmas Ciomas setiap pekannya. “Hari-hari biasa, kita punya kader puskesmas yang tugasnya mengontrol ke lapangan memberikan pendampingan kepada penderita ODGJ. Target kita, ODGJ bisa diobati dan disembuhkan secara total,” harapnya. (Rifat/RBG)