65 Hektare Lahan Bendungan Sindangheula Belum Dibebaskan

0
96
Mega Proyek Bendungan Sindangheula yang menggerus dua kecamatan di dua daerah, Kota dan Kabupaten Serang, masih proses pembangunan, Selasa (31/10).

PABUARAN – Pembangunan proyek nasional Bendungan Sindangheula masih menyisakan lahan yang belum dibebaskan seluas 65 hektare. Proses pembebasan lahan terkendala persoalan administrasi tanah.

Selasa (31/10), sekira pukul 10.00 WIB, proyek Bendungan Sindangheula dikunjungi Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah didampingi sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Serang. Hadir Kapolres Serang Kota Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Komarudin dan Komandan Distrik Militer (Dandim) 0602/Serang Letkol Czi Harry Praptomo. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung dan Cidurian (BBWSCCC) Tris Raditian memandu kunjungan tersebut.

Pada kunjungannya ke Bendungan Sindagheula, Tatu memantau tiga lokasi pembangunan proyek. Antara lain jembatan di atas bendungan, saluran bendungan, dan tembok irigasi. Di lokasi bendungan, sejumlah pekerja proyek tampak sibuk mengerjakan pembangunan tiang pancang dan pengerukan tanah menggunakan alat berat berupa ekskavator.

Tatu mengatakan, Bendungan Sindangheula akan menjadi pemasok kebutuhan air bersih di wilayah Kabupaten Serang. Menurut politikus Golkar tersebut, keberadaan Bendungan Sindangheula dapat menggenjot perekonomian masyarakat di wilayahnya.

“Tentu kita terbantu dengan adanya pembangunan bendungan ini,” ucapnya usai monitoring.

Diungkapkan Tatu, proyek Bendungan Sindangheula masih menyisakan lahan yang belum dibebaskan. “Seluas 65 hektare yang belum dibebaskan karena persoalan administrasi. Sudah ada anggarannya di provinsi, tinggal pelaksanaannya saja,” terangnya.

Meski demikian, Tatu memastikan, tidak ada penolakan dari masyarakat setempat terkait pembangunan Bendungan Sindangheula. Tatu bahkan berencana menjadikan Bendungan Sindangheula sebagai salah satu destinasi wisata.

“Nanti akan saya tanyakan, apakah bisa dikelola untuk wisata atau tidak. Kalau kita lihat desainnya, ada semacam pulau buatan,” jelasnya.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah bersama unsur pimpinan daerah mendengarkan penjelasan Kepala BBWSC-3 Tris Raditian terkait bendungan.

Di tempat yang sama, Kepala BBWSC-3 Tris Raditian mengatakan, progress pembangunan Bendungan Sindangheula secara keseluruhan baru mencapai 46 persen. Pengerjaan proyek menggunakan sistem multiyears. “Kalau target per tahunnya, tahun ini sudah mencapai 79 persen,” katanya.

Mega proyek tersebut, kata Tris, dibangun di atas lahan seluas 155 hektare untuk dua wilayah kecamatan di dua daerah. Dari luas 155 hektare itu, 129 hektare lahan di antaranya untuk genangan air.

Bendungan, lanjutnya, mampu menampung air sebanyak 8.993.826 meter kubik. Selain itu, mengaliri 1.000 hektare irigasi pertanian. Tris membenarkan masih ada 65 hektare lahan bendungan yang belum dibebaskan, lokasinya di Desa Pancanegara.

“Tidak ada kendala, hanya persoalan administrasi saja. Masyarakat tidak ada yang menolak karena sudah ada instruksi Gubernur Banten kalau tahun ini proyek harus sudah tuntas,” tegasnya.

Diungkapkan Tris, pembangunan fisik Bendungan Sindangheula ditarget selesai Desember 2018. Sehingga, Desember 2019 bendungan sudah bisa dioperasionalkan. “Setelah bangunan fisik selesai, ada proses pengisian air selama satu tahun,” ungkapnya.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Mineral (PDAM) Tirta Albantani Kabupaten Serang Wahyu Prihantono menambahkan, Bendungan Sindangheula bakal menjadi sumber bahan baku air bersih untuk beberapa wilayah kecamatan. Di antaranya wilayah Kecamatan Bojonegera, Puloampel, Kramatwatu, dan sekitarnya. PDAM, lanjutnya, mendapatkan jatah pengelolaan 200 liter per detik air dari Bendungan Sindangheula. Wahyu memastikan jumlah itu mencukupi kebutuhan air di beberapa kecamatan.

“Nanti kita bicarakan lagi bagaimana teknisnya. Apakah langsung diolah di sini atau bagaimana,” tukasnya. (Rozak/RBG)