Jelang PON, Pelatda Biliar Masih Belum Maksimal

Biliar Banten
Pebiliar putri Banten Putrini Sianturi menjalani Pelatda di Fortuna Biliar, RTC, Kota Serang, Selasa (19/1/2016). (Foto: Andre AP)

SERANG – Seharusnya pemusatan pelatihan daerah (pelatda) cabang olahraga (cabor) biliar jelang hadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat 2016 sudah dimulai dari Desember 2015 lalu. Namun, pelatda belum juga berjalan maksimal lantaran atlet masih menjalani pelatda secara desentralisasi.

Manajer Biliar Banten Taufik Hidayat mengatakan, meski pelatda tidak maksimal, tapi tetap berjalan lantaran pelatih memiliki target program yang harus dicapai. “Pelatda sudah berlangsung, tapi masih desentralisasi karena kami belum punya tempat latihan yang memadai. Atlet untuk sementara berlatih di daerahnya masing-masing,” kata Taufik di sekretariat Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Banten, Selasa (19/1/2016) siang.

Masih kata Taufik, bila situasi ini tidak segera disikapi, pihaknya khawatir performa atlet mengalami penurunan. “Kalau meja, sudah ada dua unit bantuan dari KONI Banten. Tapi, sampai sekarang tidak dipakai. Mau digelar di mana, tempatnya belum ada. Bisa saja kami titipkan di rumah biliar yang ada di Banten, tapi tempatnya tidak ada yang representatif. Tetap saja latihan atlet tidak maksimal karena terganggu hiruk pikuk pengunjung lain yang datang sekadar bermain di rumah biliar. Atlet kan butuh konsentrasi dan ketenangan saat berlatih,” imbuhnya.

Untuk itu, pihaknya berharap KONI Banten bisa segera merealisasikan program yang telah diusulkan Pengprov POBSI untuk pengadaan tempat pelatda. “Ya, minimal untuk sementara sewa dululah. Kami sudah menemukan tempat atau gedung yang bisa digunakan untuk sentralisasi pelatda. Tapi, kami masih menunggu arahan KONI Banten,” ungkap Taufik.

Sementara itu, Kepala Pelatih Biliar Banten Susanto menyatakan, menjalani pelatda secara desentralisasi menimbulkan banyak kerugian dan tidak maksimal. “Bayangkan saja, delapan atlet yang lolos ke PON tidak berada di satu daerah. Mereka tersebar di lima kota/kabupaten dan kami tim pelatih harus menyambangi mereka secara bergantian. Ini kan tidak maksimal dan membuang waktu. Program pelatda yang kami susun sedemikian rupa juga terancam tak mampu diserap atlet karena tidak terkontrol. Kalau pelatda dilakukan di satu tempat, saya yakin akan berjalan maksimal dan kualitas atlet akan meningkat,” ucapnya.

Di PON nanti, pria yang akrab disapa Anto mengaku optimistis biliar mampu menyumbang medali emas. “Dengan catatan, pelatda harus berjalan maksimal dari sekarang. Tidak hanya pelatda, tapi juga tryout. Secara kualitas, atlet sangat meyakinkan,” tutupnya. (RB/dre/air/dwi)