80 Persen Jalan Desa Rancalabuh Tak Lagi Becek

0
163
Ilustrasi

TANGERANG – Pemerintah Desa Rancalabuh, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang fokus membangun infrastruktur fisik di lingkungan desa. Hal itu dikatakan Kepala Desa Rancalabuh H. Alim saat ditemui di kantornya, Senin (16/9). Dia juga mengklaim hampir 80 persen jalan lingkungan di desanya tidak lagi becek ketika hujan, karena sudah di pavingblock lengkap dengan saluran pembuangan air limbah (SPAL).

“Pembangunan infrastruktur fisik mulai difokuskan pada 2015 lalu, dan dilakukan secara bertahap setiap tahunnya. Kini, hampir semua jalan lingkungan tidak ada lagi yang becek ketika hujan,” katanya.

Alim menambahkan, infrastruktur jalan menjadi kebutuhan utama warga untuk mendukung berbagai aktivitasnya. “Kalau jalannya krikil dan tanah pasti mengganggu, dan bikin nggak nyaman. Terlebih kalau hujan, pasti becek. Tapi sekarang Alhamdulillah, warga sudah nyaman beraktiviats karena jalannya sudah bagus dan rapih,” imbuhnya.

Dijelaskan pembangunan infrastruktur fisik mencakup pavingblock, SPAL, dan turab. Sementara untuk pembangunannya, dilaksanakan bertahap setiap tahun dan merata di 21 RT dan empat RW. Bahkan pada 2015 lalu tahap pertama hanya empat titik, dan tahap kedua delapan titik, kemudian paling banyak 2018 ada 20 titik terbagi jalan pavingblock, SPAL, jalan penyebrangan dan lainnya.

Sedangkan tahun ini, pihaknya sedang menuntaskan pengecoran jalan di Kampung Ribut dengan panjang 320 meter dan lebar sekira dua meter lebih. Untuk nilai anggaran yang digunakan sebesar Rp280 juta. “Ini bentuk komitmen kami, karena kalau jalannya hancur akan menghambat perjalanan warga yang mayoritas petani dan pedagang,  akhirnya kami bangun, agar desa maju dan bagus. Kalau sudah bagus, bisa dinikmati semua warga,” terangnya.

Selain fokus pada pembangunan infrastruktur, 2020 mendatang Pemerintah Desa Rancalabuh akan membentuk badan usaha milik desa (Bumdes) salah satu bentuk programnya yakni membuka warung grosir sembako. Diharapkan dengan adanya warung grosir sembako memudahkan warga yang memiliki warung untuk memenuhi kebutuhan sembako yang dijual, dan harganya lebih murah. Untuk Bumdes warung grosir sembako rencanannya akan dianggarkan sekira Rp200 juta.

Tidak hanya itu, desa yang memiliki 1.187 hektare didominasi dengan area persawahan dan mayoritas warga berprofesi sebagai petani, Alim juga akan fokus pada pembangunan sektor pertanian berupa tanaman palawija. Dia menjelaskan sejak 2017 lalu sebetulnya sudah berjalan, tanaman palawija mulai dari timun, kacang panjang, terong ungu dan bulat sudah ditanam dan hasilnya sangat bagus. Tetapi karena musim kemarau di tahun ini, tidak bisa kembali menanam karena tidak ada air. Untuk itu program ini akan mulai kembali berjalan di tahun depan, yang diprediksi mulai masuk penghujan. (pem/rb)