Peserta SBMPTN 2018 tengah mengerjakan soal-soal ujian di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (8/5). Foto: JawaPos.com

JAKARTA – Ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) 2018 mulai digelar hari ini (8/5). Ujian dilaksanakan selama tiga hari, Selasa (8/5), Rabu (9/5), dan Jumat (11/5), ini diikuti 860.001 para lulusan SMA, MA, ataupun SMK. Mereka berebut kesempatan kuliah di pergurun tinggi negeri (PTN) dengan kuota yang tersedia 100 ribu dari jalur tersebut.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menjelaskan, dirinya akan memantau pelaksanaan ujian tulis SBMPTN di Bali. Nasir berharap pelaksanaan SBMPTN tahun ini lebih baik daripada periode sebelumnya. Kalau masih ada yang nekat menjadi joki ujian SBMPTN, Nasir menginstruksikan untuk ditangkap dan diproses secara akademik maupun pidana.

“Jika yang menjadi joki adalah mahasiswa aktif, sanksi akademiknya adalah langsung diberhentikan,” katanya setelah membuka Diskusi Publik Hardiknas di kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (7/5), dilansir JawaPos.com.

Sebagaimana diketahui, pada SBMPTN 2015 ditangkap sepasang joki dan pengguna jasanya di Universitas Sebelas Maret. Pada tahun yang sama juga tertangkap seorang joki yang merupakan alumnus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Kemudian, pada periode 2016 di Makassar, dua peserta SBMPTN di Unhas didiskualifikasi karena menggunakan jasa joki.

Menurut Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Syafsir Akhlus, ada beberapa cara yang dilakukan panitia untuk mengantisipasi keberadaan joki ujian SBMPTN. Di antaranya, menaruh perhatian lebih untuk peserta dengan ijazah SMA 2016 dan 2017.
Selain itu, panitia memberikan perhatian lebih kepada peserta yang tahun lahirnya berbeda mencolok dengan kebanyakan peserta ujian lainnya.

“Ada trapping yang bisa dilaksanakan untuk mendeteksi keberadaan joki,” tuturnya. (wan/c19/ttg/JPG)