93 Persen Lahan Tol Serang-Panimbang Trase I Selesai Dibebaskan

Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa (keempat dari kanan) bersama Asda I Provinsi Banten Anwar Mas’ud (ketiga dari kanan), Dirut Wika Serang-Panimbang Mulyana, dan Kepala PPK I Serang-Panimbang Sugandi secara simbolis menyerahkan dokumen pembayaran ganti rugi lahan di Kecamatan Tunjungteja, Kabupaten Serang, Kamis (11/10).

SERANG – Progres pembebasan lahan Tol Serang-Panimbang Trase I (Kota/Kabupaten Serang) sudah mencapai 93 persen. Tujuh persen sisanya belum selesai dibebaskan karena masih terjadi sengketa.

Kepala Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Trase I Tol Serang Panimbang Sugandi mengatakan, lahan di 16 desa di Kabupaten Serang dan Kota Serang yang dilalui tol sudah 15 desa yang dibebaskan. “Satu lagi sedang berjalan. Jadi, keseluruhan sudah 93,3 persen yang sudah dibereskan. Termasuk yang hari ini (kemarin-red),” katanya di sela-sela pembayaran ganti rugi lahan di Kecamatan Tanjungteja, Kabupaten Serang, Kamis (11/10).

Dari rencana pembebasan lahan, keseluruhan lahan yang digunakan sebagai jalur tol di trase I seluas 178,84 hektare, sudah dibebaskan seluas 162, hektare. Dari luas tersebut keseluruhan berjumlah 2.220 bidang tanah. “Yang sudah bebas ada 2.062 bidang dan sisa 158 bidang,” ungkap Sugandi.

Menurutnya, tujuh persen lahan yang belum dibebaskan karena tanah tersebut masih dalam proses sengketa di pengadilan. Lalu karena ada beberapa warga yang masih keberatan ganti rugi, tanah wakaf, dan warga yang tidak diketahui alamatnya.

Selain itu, ada beberapa lahan fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) Pemkab Serang. Di antaranya, lahan lima sekolah dasar yang akan direlokasi. Yakni, SDN Cipete, Seba, Inpres Cikeusal, Cilayang, Guha, dan Silebu. “Termasuk satu kantor Desa Cikesal,” kata Sugandi.

Lahan lima SDN tersebut, ucap Sugandi, sedang dalam penyelesaian administrasi yang ditarget selesai pada November atau Desember. “Setelah proses itu selesai, kita lakukan pengajuan peta bidang tanah untuk lahan pengganti. Jadi, begitu sekolah dibongkar dan relokasi, murid-murid sudah memiliki sekolah baru untuk proses belajar mengajar,” jelasnya.

Sugandi tidak menjelaskan lokasi pengajuan peta bidang tanah yang digunakan untuk lahan baru sekolah tersebut. “Ini untuk penilaian, appraisal. Dari penilaian itu baru dilakukan musyawarah dengan pemilik lahan pengganti. Kalau sudah sepakat baru dibayar lalu kita lelang pembangunan dan lelang konsultan perencanaan,” katanya.

Meski belum 100 persen dibebaskan, proses konstruksi Tol Serang-Panimbang sudah dilakukan dengan melakukan pengerasahan lahan. Direktur Utama PT Wika Serang-Panimbang Mulyana mengatakan, pengerjaan konstruksi tol dibagi dalam tiga seksi. Seksi 1 dari Serang hingga Rangkasbitung, seksi 2 Rangkasbitung hingga Cileles, dan seksi 3 dari Bojong hingga Panimbang. “Saat ini progresnya untuk seksi 1 sudah 97 persen dan ditarget selesai pada November 2019,” ujarnya.

Untuk seksi 3, menjadi porsi pemerintah yang direncanakan mulai konstruksi pada Januari 2019 dan selesai pada Agustus 2020 bersamaan dengan penyelesaian seksi 2. “Porsi BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) Serang hingga Cileles atau seksi 1 dan 2, dengan panjang 50,67 kilometer,” terangnya.

Selain pengerasan jalan, pihaknya terus melakukan pembukaan jalan bagi lahan yang telah dibebaskan. Selain itu, PT Wika Serang-Panimbang juga membangun tembok pemisah antara kawasan proyek dan permukiman warga. “Ada 226 alat berat yang kami turunkan agar pengerjaan konstruksi bisa selesai tepat waktu,” katanya.

Mulyana mengatakan, selain untuk penunjang akses transportasi, keberadaan Tol Serang-Panimbang juga memiliki manfaat yang penting khususnya bagi masyarakat sekitar. Di antaranya, pengembangan wisata dan pertumbuhan ekonomi baru. (Supriyono/RBG)