SERPONG–Walikota Airin Rachmi Diany mengeluhkan bantuan orang miskin yang tak tepat sasaran dalam Musrenbang Kecamatan Setu, Kamis (15/2). Dari data yang dilampirkan pada tahun 2016 lalu, sebanyak 15 ribu orang miskin di Tangsel hampir 1.000 warga mampu masih ikut menerima bantuan itu.
Ibu dua anak itu mengakui seluruh warga menginginkan bantuan yang diberikan oleh pemerintah kota dan pusat. Sehingga banyak penyalahgunaan yang dilakukan, dan banyak pula yang mengaku warga miskin.
Melihat hal itu, Airin lantas meminta untuk OPD terkait mengurus regulasi yang benar dan ketat, agar bisa meminimalisasi penyalahgunaan kebijakan ini. ”Saya sudah minta hal seperti ini dientaskan. Jangan lagi orang mampu ngakunya tidak mampu, itu salah,” kata mantan Mojang Bandung tahun 1996 itu.
Ditambahkan, pihaknya juga terus menverifikasi jumlah validasi data kemiskinan yang baru, dan diharapkan bisa menjadi salah satu tolok ukur yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tangsel.
Menanggapi hal tersebut, Asisten Daerah bagian Bidang Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Teddy Meiyadi akan segera menciptakan regulasi baru. Salah satunya dengan menempelkan stiker tidak mampu di setiap rumah warga yang masuk ke dalam golongan penyandang permasalahan kesejahteraan sosial (PMKS).
”Biasanya jika ditempeli setiker ini, masyarakat pasti enggan karena gengsi. Tapi kalau emang benar-benar miskin pasti mau ditempeli stiker,” tutur Teddy saat dihubungi, Kamis (15/2).
Lelaki yang juga menjabat sebagai Plt Kepala Dinas Sosial ini lantas menjelaskan, peraturan penempelan stiker tidak mampu ini akan dilakukan pada tahun ini. ”Tahun ini sudah mulai penempelan stiker warga miskin. Jadi bantuannya nanti diberikan dor to dor bukan lagi ke kelurahan atau kecamatan,” jelasnya. (mg-04/adm/sub/RBG)










