Kisah rumah tangga Parjo (44) dan istrinya Nina (43), cukup menggelikan sekaligus memilukan. Mereka sempat pisah ranjang selama setahun hanya gara-gara ibunya Parjo terganggu dengan desahan istri yang terlalu berisik setiap berhubungan intim. Yassalam.
Ditemui Radar Banten di Kecamatan Jawilan, Parjo siang itu baru selesai makan siang di warung nasi pinggir jalan. Sambil mengisap sebatang rokok, Parjo berkenan menceritakan pengalaman rumah tangganya yang lucu dan unik tetapi membuat rumah tangganya nyaris pisah.
Parjo yang bekerja sebagai karyawan pabrik di Kecamatan Kibin, bertemu dengan Nina di depan sebuah kontrakan. Waktu itu Nina sedang ribut dengan temannya yang juga berasal dari Pandeglang. “Penasaran ada ribut-ribut, saya pisahin deh,” kenang Parjo.
Ketika melerai, Nina meminta tolong Parjo untuk membawanya pergi. Bak pahlawan kesiangan, Parjo tak membuang kesempatan membantu Nina yang memang mempunyai wajah cukup rupawan dan bodinya yang semok menggoda. “Saya bawa dia balik ke kontrakannya,” ujarnya. Terus-terus? “Enggak ada terus-terus, saya suruh istirahat saja,” kelitnya.
Dari pertemuan itu, Parjo sudah menaruh hati kepada Nina karena sikapnya yang baik selain cantik. Orangnya juga lucu dan polos. Parjo juga tak kalah keren, meski badannya kurus. Sejak itu, Parjo semakin akrab dengan Nina dan mulai memberikan perhatian lebih. Mulai dari membantu membayar kontrakan Nina sampai mengajaknya makan dan jalan-jalan. Karena merasa dibantu, Nina membebaskan Parjo main ke kontrakannya setiap saat. “Malah saya sudah tidur bareng ama istri sebelum terikat tali pernikahan,” ungkapnya. Astaga, dasar hidung belang. “Tapi kan saya tanggung jawab,” timpalnya. Iya sih tapi kan dosanya itu loh.
Setahun kemudian mereka sepakat menjalin hubungan ke arah lebih serius. Meski sempat terkendala restu orangtua, karena Parjo yang terus memaksa akhirnya pernikahan tetap berlangsung meski dengan prosesi pernikahan sederhana. Nina pun menerima tinggal bersama mertuanya. “Sejak bapak meninggal, ibu tinggal sama saya. Soalnya di rumah keluarga sudah penuh sama keponakan,” katanya.
Alasan hubungan Parjo dengan Nina dari awal tidak direstui ibunya karena masa lalu Nina yang kelam. Nina sempat bekerja di tempat hiburan malam sebagai pemandu lagu (PL). Sehingga, ibu Parjo memandang Nina selalu negatif. Padahal, penjelasan Nina kalau dia menjadi PL karena terpaksa. Nina ditipu temannya yang mengiming-iminginya bekerja pabrik. Namun, buat ibu Parjo itu tak jadi alasan. Beruntung, Parjo memandang Nina dari sisi positif. Menurut Parjo, cerita lalu biarlah dikubur dalam-dalam dan diyakini bisa bahagia dengan membuka lembaran baru bersama wanita pujaannya. Parjo menerima Nina apa adanya. Dari sejak awal berumah tangga, Nina dan mertuanya sudah tidak akur yang membuat Parjo pusing tujuh keliling, karena bingung harus membela siapa. Ujung-ujungnya, situasi itu sering memaksa Parjo pergi ke warung jamu menenggak minuman keras (miras). “Dulu saya pemabuk berat. sering stres mikirin rumah tangga,” akunya. Stres tuh obatnya iman dan takwa kang, bukan minum miras.
Dengan kondisi serumah, situasi di rumah semakin tidak terkendali. Masalah kecil juga terkadang berubah menjadi besar. Apalagi masalah besar, sudah pasti dibesar-besarkan keduanya. Contohnya, ketika beras di rumah habis. Ibunya menyalahkan Nina yang tidak bisa mengatur keuangan suami. Begitu pula dengan Nina yang menyalahkan mertua karena sudah merepotkan rumah tangga anak. “Pusing pokoknya. Sama-sama cewek kalau sudah ngomel tahu sendiri bacotnya gimana,” keluh Parjo. Dinikmati aja Kang.
Yang paling menggelikan, Nina dan ibunya bertengkar hanya gara-gara masalah hubungan intim. Situasi itu terjadi sejak malam pertama. Ibunya tidak terima dengan suara desahan Nina yang terlalu berisik setiap berhubungan intim dengan Parjo karena dianggap sudah mengganggu tidurnya. Kalau sudah merasa terganggu, ibunya tak sungkan untuk menggedor-gedor pintu kamar Parjo yang sedang beradegan. “Ya ibu suka enggak kontrol, ganggu kenikmatan aja. Masa masalah desahan aja jadi masalah. Justru berisik itu puncak kenikmatannya,” cetusnya. Enaakkkk. “Untung ibu sendiri, kalau bukan mungkin sudah saya usir,” kesalnya. Jangan Kang, durhaka loh.
Setahun kemudian mereka dikaruniai anak. Nina semakin berani melawan mertuanya. Sejak itu, keributan sering terjadi antara Nina dan mertua di rumah yang berdampak Parjo dan Nina pisah ranjang. “Saya jadi tidur sama ibu, istri sama anak,” kesalnya.
Akhirnya, setelah rumah tangga berjalan lima tahun, Parjo ternyata sudah menabung untuk membangun rumah sederhana. Tujuannya agar istri dan ibunya tidak serumah. Parjo membangun rumah sederhana buat ibunya tak jauh dari rumah. Sejak itu, keduanya kembali harmonis. Meski masih belum bisa mendamaikan istri dan ibunya, tetapi hati Parjo sudah mulai agak tenang. “Cuma bisa berdoa supaya istri dan ibu bisa akur,” harapnya. Amin. (mg06/zai/ags)










