Berawal dari rasa penasaran akan keindahan alam di wilayah timur Indonesia, Lisma (74), warga Desa Rancalawe, Kecamatan Pamarayan memutuskan pergi meninggalkan sanak saudara demi mendapat pengalaman baru di Papua. Namun, kerasnya perjuangan di tanah rantau, membuat Lisma enggan pulang dan terpisah selama 42 tahun dengan keluarga di kampung halaman.
HAIDAR – Jawilan
Terik matahari begitu menyengat, orang-orang di lingkungan Kampung Harendong, Desa Jawilan, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, banyak yang memilih diam di rumah. Seperti halnya Lisma, yang ketika dikunjungi Radar Banten, Senin (23/9) siang sedang duduk sambil mengisap rokok di ruang tengah rumah anaknya, Anton, yang disulap menjadi tempat tidur nenek berusia senja ini.
Lisma anak pertama dari lima bersaudara. Sejak kecil tinggal di Jakarta bersama kedua orangtua. Ayahnya keturunan Pakistan, sedangkan ibunda dari Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang. Hingga dewasa, tepatnya tahun 1965, Lisma menikah dengan Atang Supardi, anggota Brimob di Kwitang, Jakarta. Suaminya merupakan lelaki asli keturunan Papua.
Dari suaminya itu, cerita tentang keindahan alam Papua dengan karakteristik suku dan budaya membekas dalam benak Lisma. Impian bisa mengunjungi tanah Papua pun selalu tertanam dalam kepala.
Dari pernikahannya itu Lisma dikaruniai dua anak, yakni Anton dan Andri. Namun Andri meninggal dunia, sedangkan suaminya pergi entah ke mana. Lalu pada 1977, Lisma berangkat ke Sorong, Papua meninggalkan Anton yang waktu itu masih berusia 13 tahun dan tinggal di Pamarayan bersama adik Lisma. “Sebenarnya karena penasaran, saya jadi pergi ke Papua,” kata Lisma.
Di Sorong, Lisma bertemu dengan Kapten Fred, yang menakhodai kapal pariwisata dan pengiriman barang berbendera Panama. Karena hubungan baik pertemanan, Lisma diajarkan mengoperasikan jangkar, ilmu-ilmu melaut, bahkan cara menjadi nakhoda kapal. “Saya juga belajar bahasa Inggris dan Jerman,” katanya.
Enam bulan kemudian, Kapten Fred mengalami kecelakaan laut, kakinya terbentur salah satu bagian kapal yang rusak dan harus diamputasi. Karena tidak bisa lagi menakhodai, kendali kapal pun diserahkan kepada Lisma selama dua tahun. “Saya perempuan satu-satunya yang menjadi nakhoda dan keliling Papua,” akunya bangga.
Sebanyak 400 dolar Amerika adalah upah yang diterima Lisma bekerja menjadi nakhoda dari Kapten Fred. Gaji pertamanya digunakan untuk membangun rumah dengan harga murah. Setelah itu, ternyata rasa penasaran Lisma terhadap tanah Papua belum juga terpenuhi. Ia melanjutkan perjalanan ke Manokwari.
Di Manokwari, tepatnya 1985, Lisma menikah dengan Edi Sipaelut, salah satu anggota polisi yang beragama Kristiani. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai satu anak lelaki. Namun, rumah tangga mereka tidak berlangsung lama, saat sang anak berusia lima bulan, suami Lisma memaksa agar anaknya dibaptis. Namun, Lisma menolak, ia ingin anaknya masuk Islam. “Akhirnya saya bawa kabur anak ke Jakarta dan tinggal bersama ibu mertua,” akunya.
Entah apa yang ada di benak Lisma waktu itu, pada 1990, ia kembali lagi ke Sorong, Papua bekerja sebagai resepsionis di Hotel Mamberamo selama tujuh tahun. Lantaran tidak menemukan kenyamanan bekerja, Lisma pindah ke Fakfak, bekerja sebagai resepsionis merangkap kepala seleksi pekerja selama 15 tahun. “Ada banyak pengalaman berharga, mulai dari terjebak di peperangan antar-suku, sampai intimidasi umat beragama,” katanya.
Untuk kesekian kalinya, Lisma pindah dan tinggal di Timika. Di sana ia merawat anak angkat yang diasuhnya sejak usia tiga bulan hingga kini sudah 13 tahun. Selama mengurus anak angkatnya itu, Lisma selalu terbayang wajah Anton, anak kandung yang ia tinggal pergi. “Saya sering melamun mikirin Anton,” katanya.
Pada 2019, Lisma terkena struk di bagian kaki sehingga membuatnya tidak bisa berjalan. Setahun kemudian, giliran matanya terkena katarak dan tidak bisa melihat. Sejak itu, kesehariannya lebih banyak dihabiskan di dalam rumah. “Saya enggak mendapatkan apa-apa dari perjalanan ini, hanya pengalaman yang bakal saya ceritakan ke anak cucu,” akunya.
Hingga suatu siang di 2019, Lisma menyetel lagu Sunda bernada Jaipongan. Suara musik dari rumah Lisma yang tidak jauh dengan Koramil Timika, tergengar oleh salah satu anggota Bhabinsa keturunan Sunda. “Waktu itu saya didatengin sama Bhabinsa dan ditanya asal-usul saya. Saya ngaku kalau punya keluarga di Banten,” ungkapnya.
Video wawancara Lisma diunggah ke grup Bhabinsa seluruh Indonesia. Terkoneksilah dengan Bhabinsa di Desa Rancalawe, Kecamatan Pamarayan. Pelacakan keluarga Lisma pun terdeteksi dan berkat bantuan aparat, Lisma berhasil dipulangkan ke Pamarayan pada 18 September 2019. “Senang banget sekarang bisa ketemu anak dan keluarga lagi,” ungkapnya.
Sehari kemudian, Anton membawa Lisma ke rumahnya di Kampung Harendong, Desa Jawilan, Kecamatan Jawilan. Anton yang sempat menganggap ibunya sudah meninggal dunia, kini bisa tinggal serumah dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. “Semoga penyakit katarak ibu sembuh dan bisa melihat anak dan cucu-cucunya,” harapnya. (*)









