SERANG – Ratusan mahasiswa dari empat perguruan tinggi (Untirta, UIN Banten, Unsera dan Universitas Bina Bangsa) serta puluhan petani, mendatangi Kantor Gubernur Banten di KP3B, Curug, Kota Serang, Selasa (24/9). Mereka ingin menemui Gubernur Wahidin Halim dalam rangka merayakan Hari Tani Nasional (HTN) 2019.
Pantauan Radar Banten dilapangan, para petani dan mahasiswa tiba di Kantor Gubernur sekira pukul 11.00 WIB. Namun sayang, hingga pukul 14.30 WIB, Gubernur Banten tidak bersedia menemui petani dan mahasiswa.
Gagal menemui gubernur, petani dan mahasiswa mencoba menerobos masuk pintu gerbang utama kantor gubernur yang dijaga ketat aparat kepolisian. Gerbang sebelah kanan pun sempat jebol oleh ratusan mahasiswa. Namun kericuhan pun berhasil diredam karena mahasiswa dan polisi bisa menahan diri.
Pengurus Serikat Petani Indonesia (SPI) Banten, Rais Amsar menyampaikan kekecewaannya terhadap gubernur yang tidak bersedia menemui petani dan mahasiswa.
“Kami ingin meminta perlindungan pada gubernur, karena tanah kami di Cibaliung Kabupaten Pandeglang dirampas oleh Perum Perhutani,” kata Rais kepada wartawan disela aksi.
Rais menuturkan, konflik agraria di Cibaliung telah terjadi lebih dari 25 tahun, namun Pemprov Banten tidak pernah membantu hak-hak petani. “Hari ini kami hanya dibantu oleh mahasiswa, tapi pemerintah daerah belum mau membantu kami,” tegasnya.
Senada, anggota serikat petani lainnya, Edi Hamim mengaku konflik agraria juga terjadi di Kabupaten Serang.
“Di Kecamatan Binuang, Gorda, Kabupaten Serang, tanah petani juga belum dikembalikan oleh TNI AU. Kami mohon Pak Gubernur Banten turun tangan,” ungkapnya.
Lebih dari tiga jam menunggu kehadiran gubernur, akhirnya ratusan mahasiswa dan petani melanjutkan aksinya ke DPRD Banten. Sekira pukul 15.00 WIB. Massa aksi meninggalkan kantor gubernur menuju gedung wakil rakyat. (Deni Saprowi)








