PONTANG – Warga RW 03, Kampung Domas, Desa Domas, Kecamatan Tirtayasa, punya ide cukup unik untuk menghilangkan kebiasaan warga membuang sampah sembarangan. Lahan kosong yang biasa digunakan warga untuk membuang sampah, disulap menjadi taman mini. Warga Domas juga berkreasi membuat spot-spot foto. Lingkungan salah satu peserta Lomba Kampung Bersih dan Aman Kabupaten Serang 2019 ini siap berkompetisi.
Sekretaris Desa Domas Syahroni mengatakan, taman mini di lahan bekas pembuangan sampah liar itu diberi nama oleh warga, Taman Blukbukan. Penamaan taman ini mungkin berdasarkan suara yang ditimbulkan dari kantong plastik berisi sampah ketika dijatuhkan ke tempat pembuangan sampah liar tersebut.
Warga membuat taman kecil ini agar lingkungan RW 03 terlihat bersih, indah, dan nyaman. Juga, untuk mengurangi kesan kumuh. Penutupan tempat sampah liar ini menyiratkan bahwa warga Domas tidak lagi membuang sampah sembarangan.
“Awalnya, lahan kosong ini kerap dijadikan warga sebagai tempat membuang sampah liar. Kini, disulap menjadi taman bermain,” terang Syahroni kepada Banten Raya TV (grup Radar Banten), Rabu (23/10).
Di Taman Blukbukan, jelas Syahroni, warga bisa berswafoto dengan latar belakang tulisan, kerajinan anyaman bambu, dan lukisan karya pemuda Domas. “Di Taman Blukbukan ini juga ada tanaman hias sebagai pemanis taman,” terangnya.
Di RT 12 RW 03, Kampung Domas, lanjut Syahroni, juga ada taman kecil yang dinamai Taman Galau. Taman kecil ini tidak jauh dari gapura Selamat Datang Desa Domas. Warga menghias Taman Galau agar menjadi spot foto. Taman ini pun diklaim menjadi taman bermain anak-anak yang ramah lingkungan.
Sebelum menjadi Taman Galau, lokasi ini merupakan tempat pembuangan sampah liar. Sebelum disulap menjadi taman, lokasi ini juga kerap dijadikan anak-anak muda untuk nongkrong hingga larut malam. Perilaku anak muda ini berpotensi pada perbuatan kriminal.
“Namun, dengan menjadi Taman Galau, tidak ada lagi muda-mudi yang ngumpul hingga larut malam. Warga juga enggan membuang sampah di lahan ini lagi,” ungkap Syahroni.
Kreasi pemuda Domas masih bisa dilihat pada dinding-dinding tembok rumah milik warga. Pemuda kampung ini menjadikan dinding tembok tersebut sebagai media lukisan grafiti. Kesan kumuh tak lagi menempel di Kampung Domas.
“Lukisan-lukisan karya pemuda itu agar tidak ada lagi kesan kumuh pada permukiman di Kampung Domas,” tegas Syahroni.
Untuk mengatasi sampah di kampung ini, pihak desa juga telah mendirikan bank sampah. Operasional bank sampah ini, menurut pengurus Bank Sampah Desa Domas Ahmad Bayadi, masih menunggu pembangunan kantor bank sampah rampung, juga di lahan bekas pembuangan sampah liar.
“Oleh pengurus bank sampah, sampah dari warga dijual ke pengepul sampah. Nasabah bank sampah, nantinya mendapat uang atau minyak goreng,” jelas Ahmad.
Keamanan Kampung Domas, menurut polisi desa (Poldes) Samlawi, cukup terjamin. Di RW 03, Kampung Domas, ada empat pos ronda. Setiap pos ronda berada di tiap RT di RW ini. Pos ronda sebagai pusat keamanan lingkungan ini dimanfaatkan dengan baik oleh warga.
“Alhamdulillah, sejauh ini, di RW 03, Kampung Domas, belum ada catatan kriminalitas,” ungkap Samlawi. (jay/ang/don/ags)










