RADARBANTEN.CO.ID – Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Banten melaksanakan Pelatihan Kepemimpinan Pengawas Angkatan VIII dan Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan IV di lingkungan Provinsi Banten tahun 2022. Setiap peserta pelatihan dari unsur pejabat di lingkungan Provinsi Banten diwajibkan memaparkan implementasi Aksi Perubahan Kinerja Organisasi atau Pelayanan Publik.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten Ayub Andi Saputra mengatakan, kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Pengawas telah dilaksanakan mulai Bulan April sampai Juli 2022.
“Nah hari ini merupakan waktu memaparkan proyek aksi perubahan kinerja BPBD. Jenis inovasinya yaitu membuat aplikasi SIRINE (Sistem Informasi Rencana Kontinjensi),” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID di Kantor BPSDMD Provinsi Banten di Kabupaten Pandeglang, Kamis (14/7).
Jenis Inovasi dari aksi perubahan ini adalah optimalisasi pencegahan dan kesiapsiagaan kebencanaan melalui SIRINE. Memiliki manfaat kecepatan pelayanan kedaruratan bencana pada Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten.
“Menurunkan angka kematian dan kesakitan di Provinsi Banten. Serta Kemudahan penanganan darurat bencana pada Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten,” katanya.
Selain itu memberikan kemudahan perencanaan sumber daya dan peralatan pada Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten karena memiliki panduan koordinasi yang jelas.
“Untuk jangka pendeknya akan terbentuk Tim IT (Operator terampil) pada Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Banten. Terbangunnya SIRINE (sistem informasi rencana kontinjensi) pencegahan dan kesiapsiagaan kebencanaan di Provinsi Banten,” katanya.
Ayub mengungkapkan, wilayah sudah masuk aplikasi itu rencana Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang.
“Alhamdulilah pak Kalak BPBD Provinsi Banten Pak Nana beliau memberikan dukungan penuh terhadap proyek perubahan yang saya buat. Dari tim penguji BPSDMD juga harapannya agar terkait dengan sistem tersebut bisa disebarluaskan kepada masyarakat supaya mengetahui terkait Sirine di Provinsi Banten,” katanya.

Ayub menambahkan, bahwasannya yang melandasi dirinya membuat sebuah inovasi aplikasi SIRINE ini karena bencana alam dalam sepuluh tahun terakhir seakan tidak henti-hentinya menimpa Indonesia. Sudah tidak asing lagi bagi mendengar istilah tsunami, tanah longsor, gempa bumi, letusan gunungapi, banjir, kekeringan dan lain sebagainya.
“Wilayah Republik Indonesia termasuk daerah rawan bencana, terutama bencana alam geologi yang disebabkan oleh posisi Indonesia yang berada pada lingkaran cincin api yang merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, yaitu Lempeng Australia, Euro-Asia dan Samudra Pasifik. Khusus Provinsi Banten, bencana alam yang sering terjadi antara lain, banjir dan longsor yang terjadi di banyak tempat, serta gempa dan tsunami yang disebabkan oleh lokasi geografis dan geologis yang memang berada pada zona rawan bencana,” katanya.
Seringnya terjadi bencana alam tersebut terutama banjir dan longsor tidak lepas dari ulah manusia. Bila dilakukan pengamatan secara teliti, hampir di seluruh bagian Provinsi Banten terjadi alih fungsi lahan tanpa menghiraukan akibat yang mungkin ditimbulkan.
“Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi, karena kebutuhan penduduk akan lahan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya penduduk. Di sisi lain luas lahan yang dapat dimanfaatkan khususnya untuk lahan permukiman dan jasa sangat-sangat terbatas,” katanya.
Adapun kegiatan kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam yang selama ini dilakukan masih bersifat pada tindakan darurat. Yaitu tindakan yang sifatnya sementara pada saat dan sesudah terjadinya suatu bencana.
“Tindakan ini berupa evakuasi korban, penyaluran bantuan, dan rehabilitasi. Sementara tindakan kesiapsiagaan preventif yang dilakukan pada saat sebelum terjadinya bencana masih sangat jarang dilakukan, padahal tindakan ini sangat penting dilakukan guna mencegah terjadinya korban jiwa,” katanya.
Reporter: Purnama
Editor: Aditya











