PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Ratusan warga Desa Cigondang panen batu bara di pesisir pantai Pulau Popole, Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.
Batu bara yang dipanen warga berasal dari kapal tongkang TB Titan 27/BG Titan 14 milik PT Trans Logistik Prakasa (PT TLP) yang kandas saat akan menuju PLTU Banten 2 Labuan.
Kandasnya kapal tongkang itu terjadi karena kondisi perairan Selat Sunda di perairan Pulau Popole terjadi gelombang tinggi pada 2 Desember 2024.
Salah satu warga Desa Cigondang, Pipit, mengatakan, ia datang bersama saudara dan tetangganya untuk memanen batu bara yang berserakan di tepi pantai Pulau Popole.
“Ini merupakan hari ketiga kita memanen batu bara untuk kemudian dimasukkan ke dalam karung,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Rabu, 8 Januari 2024.
Pipit menjelaskan, batu bara dikumpulkan lalu dihitung berapa karung yang didapatkan dalam sehari panen.
“Terus diberikan upah oleh koordinator. Satu karung itu diberi upah Rp 10 ribu,” katanya.
Pipit mengatakan, kalau dirinya dalam satu hari bisa mengumpulkan sebanyak 50-60 karung.
“Upah sebesar Rp 10 ribu per karung itu memang kurang. Tapi karena kita butuh, jadi kita jalani kerja mengumpulkan batu bara berserakan di Pulau Popole,” katanya.
Warga lainnya, Isra, mengatakan, kalau ia memanen batu bara bersama rombongan sebanyak 20 orang.
“Jadi kita bersama rombongan membersihkan pesisir pantai Pulau Popole dengan mungutin batu bara yang berserakan di tepi pantai,” katanya.
Upah sebesar Rp 10 ribu per karung, menurutnya, cukup layak daripada menganggur.
“Lumayan buat tambah-tambah ekonomi keluarga. Daripada tiduran di rumah, mending ke sini bersihin pantai dapat uang,” katanya.
Ketua Karang Taruna Desa Cigondang, Lulut Maspudi, mengungkapkan, jadi awal cerita warga melakukan panen batu bara ini berawal dari Desember 2024 ada kejadian kapal tongkang bermuatan batu bara kandas dan karam di perairan Pulau Popole.
“Kapal tongkang memuat batu bara sebanyak 7.300 metrik ton yang tumpah ke laut di Pulau Popole. Sehingga menimbulkan kerusakan pada terumbu karang dan mengotori pantai Pulau Popole,” katanya.
Batu bara yang berasal dari kapal tongkang tumpah ke laut dan terbawa ombak sampai memenuhi tepi pantai Pulau Popole. Padahal, Pulau Popole menjadi salah satu destinasi wisata di Desa Cigondang.
“Namun karena ada tumpahan batu bara, sehingga mengotori pesisir pantai Pulau Popole. Tumpahan batu bara berserakan menutupi tepi pantai Pulau Popole,” katanya.
Setelah melihat kondisi Pulau Popole tidak lagi terlihat indah karena limbah batu bara, sejumlah warga yang peduli akan kondisi lingkungan memiliki inisiatif dengan kepeduliannya mereka mengangkut. Yakni, memungut batu bara dengan niatan membersihkan pantai Pulau Popole dari batu bara yang berserakan.
“Akhirnya karena setelah dikumpulkan mereka bingung harus gimana dan dikemanain, kami mencoba untuk memfasilitasi memediasi antara warga dengan pihak perusahaan. Akhirnya disepakatilah silakan boleh dipungutin dan kami akan memfasilitasi apa saja yang dibutuhkan,” katanya.
“Untuk jasa angkut sudah disediakan jadi tidak ada potongan. Upah diberikan masih utuh sebesar Rp 10 ribu,” katanya.
Batu bara ini statusnya masih sengketa. Artinya, tidak bisa diperjualbelikan.
“Bahkan kalau diperjualbelikan konon bisa dipidanakan. Makanya ini kami kumpulkan sampai ribuan karung,” katanya.
Camat Labuan, Yayat Hidayat, mengatakan, kalau jumlah warga turun memanen batu bara itu sekira 200 orang.
“Warga sangat berantusias ikut berpartisipasi membersihkan pesisir pantai Pulau Popole itu dari Desa Cigondang. Dan kami tentu sangat mengapresiasi karena memang Pulau Popole itu salah satu destinasi wisata,” katanya.
Warga Desa Cigondag sendiri mulai bekerja mengumpulkan batu bara dari hari Senin, 6 Januari 2025, hingga sekarang.
“Semoga pesisir pantai Pulau Popole kembali bersih. Setelah warga secara bergotong-royong membersihkan batu bara berserakan di pesisir pantai Pulau Popole,” katanya.
Editor: Agus Priwandono











