LEBAK,RADARBANTEN.CO.ID-Masyarakat adat Kasepuhan Cisitu di Kampung Sukatani, Desa Situmulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, kembali menggelar tradisi Panen Raya Padi Adat yang merupakan sebuah warisan leluhur yang terus dijaga kelestariannya dari generasi ke generasi.
Acara panen raya ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta atas hasil bumi yang melimpah.
Khususnya padi yang merupakan sumber kehidupan utama. Panen dilakukan secara gotong royong, dimulai dengan upacara adat dan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh adat.
Menurut salah satu warga adat Kasepuhan Cisitu, Sutardi, mengatakan, masyarakat sangat menghormati padi atau pare sebagai kebutuhan pangan sehari-hari.
Mereka meyakini hal tersebut, sehingga membuat setiap keluarga diwajibkan memiliki lumbung padi (leuit) untuk menyimpan hasil panen.
“Masyarakat di sini minimal punya dua lumbung padi satu per Kartu Keluarga,” kata Sutardi kepada radarbanten.co.id, Jumat 11 April 2025
Selain memiliki makna solidaritas dan budaya gotong royong yang tinggi, lumbung padi (leuit) juga sebagai simbol keberkahan dan kesejahteraan masyarakat adat dalam menjaga ketahanan pangan sehari-hari di masa yang akan datang.
“Untuk stok, takutnya ke depan ada gagal panen akibat tidak adanya pupuk, dari hama, dari kurangnya air, soalnya kalau engga ada lumbung padi takutnya kelaparan orang disini,” kata Sutardi mengenai kenapa padi harus disimpan pada leuit.
Padi yang dipanen bukan sembarang padi. Masyarakat Kasepuhan Cisitu masih mempertahankan penanaman padi lokal secara organik dengan sistem pertanian tradisional yang berkelanjutan. Proses panennya pun dilakukan dengan cara yang masih sangat menghormati alam dan adat istiadat.
Sementara menurut Abah Yoyo Yohenda, Kasepuhan Adat Cisitu mengatakan, tujuan panen raya ini, selain dalam rangka upaya mendukung program Swasembada Pangan Nasional Presiden Prabowo Subianto, kegiatan panen raya ini juga bertujuan agar pemerintah dapat memperhatikan kesejahteraan para petani di adat Kasepuhan Cisitu.
“Tujuan utamanya adalah gimana pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, dan pemerintah Pusat memikirkan sarana dan prasarana pertanian, mulai dari irigasinya, sampai dengan penyediaan pupuknya yang cukup, termasuk hasil produksi pertaniannya itu ada yang nampung, itu tujuan kami melakukan kegiatan panen raya ini,”kata Abah Yoyo.
Ia menambahkan, selain dalam rangka mendukung program Ketahanan Pangan Nasional, kegiatan panen raya ini sekaligus memperkenalkan tradisi adat istiadat serta budaya mereka kepada khalayak ramai.
“Yang kedua ingin memperkenalkan kepada masyarakat luar bahwa di Cisitu ini panennya itu beda dengan tempat-tempat yang lain, jadi artinya masih menggunakan istilah tatali paranti aki kami baheula (Nenek moyang kami dulu). Artinya menggunakan etem (Ani-ani) kurang lebihnya begitu, itu turun- temurun jadi nenek moyang kami dari sejak tahun 1621 sudah menggunakan etem (Ani-ani) jadi tidak sama dengan daerah-daerah luar seperti itu,” pungkasnya.
Reporter: Nurandi
Editor: Agung S Pambudi











