TANGERANG SELATAN, RADARBANTEN.CO.ID – Kecerdasan buatan (AI) generatif kian akrab di kalangan pelajar dan mahasiswa, mempermudah banyak hal dari penulisan esai hingga riset ilmiah.
Namun, di balik kemajuan itu, muncul pertanyaan besar, apakah teknologi ini sedang membentuk generasi pembelajar yang lebih baik atau justru mempercepat kemunduran etika akademik?
Menanggapi fenomena tersebut, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ahmad Tholabi Kharlie dalam keterangan tertulis, Rabu, 9 Juli 2025, menyatakan kekhawatiran. Menurutnya, dunia pendidikan saat ini tengah menghadapi krisis moral yang tidak boleh diabaikan di era AI.
“Ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kegilaan,” ujar Tholabi mengutip nasihat klasik dari Imam al-Ghazali.
“Kini kita menghadapi paradoks baru: ilmu yang diperoleh lewat jalan pintas, tanpa melalui proses intelektual yang sah.”
Tholabi menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, menyoroti hasil Survei Persepsi Integritas (SPI) KPK tahun 2024 yang menunjukkan bahwa 43 persen responden mengakui masih maraknya praktik plagiarisme di lingkungan kampus. Temuan ini, menurutnya, menjadi alarm bagi lemahnya etika akademik di era digital yang semakin kompleks.
Dalam pandangannya, pelarangan total terhadap penggunaan AI adalah pendekatan yang naif, sementara membiarkannya tanpa kendali justru jauh lebih berbahaya.
“Islam mengajarkan prinsip wasathiyyah—jalan tengah,” tegas Tholabi.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa pemanfaatan AI dalam dunia pendidikan harus dilandasi oleh tiga nilai utama yaitu shiddiq (kejujuran), amanah (tanggung jawab), dan al-‘adl (keadilan).
Sebagai contoh konkret, ia menyebut kebijakan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta yang telah mewajibkan setiap mahasiswa mengisi AI disclosure form dalam setiap tugas akademik. “Mahasiswa harus transparan, menjelaskan sejauh mana AI digunakan dalam karya mereka,” jelasnya.
Prinsip amanah, lanjut Tholabi, menuntut agar mahasiswa tetap memahami isi dan substansi karya mereka, meskipun terbantu oleh teknologi. Sementara prinsip keadilan mengharuskan adanya akses yang setara terhadap teknologi AI.
“Tidak semua mahasiswa mampu membeli layanan AI premium. Karena itu, kampus perlu berpikir ke depan, misalnya melalui program seperti ‘AI for All’ yang menyediakan fasilitas AI secara merata,” imbuhnya.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menurut Tholabi, telah menjadi pelopor integrasi nilai-nilai Islam dalam pengembangan teknologi AI. Melalui lembaga Artificial Intelligence and Literacy Innovation Institute (ALII), kampus ini merancang program riset dan pelatihan literasi AI yang berlandaskan etika keislaman.
“Teknologi harus diarahkan untuk mendukung maqāṣid al-syarī‘ah, bukan sekadar mengejar kemajuan teknis,” katanya.
“Di ALII, kami tidak hanya mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga menanamkan kesadaran etis dan tanggung jawab moral dalam penggunaannya,” lanjutnya .
Sebagai salah satu pimpinan Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN), Tholabi menegaskan bahwa pendidikan berbasis AI hanya akan berdampak positif jika dibarengi dengan pembentukan karakter yang kuat.
“AI itu seperti cermin. Jika karakter kita jujur dan amanah, AI akan membawa berkah. Sebaliknya, tanpa itu, AI bisa menjadi bencana,” kata Tholabi menegaskan.
Menutup pernyataannya, Tholabi mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh mengaburkan misi utama pendidikan yaitu membentuk insan berakhlak mulia.
“Pesan Rasulullah sangat relevan: Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Nilai itu tetap abadi, bahkan di tengah gelombang digitalisasi. Teknologi boleh terus berkembang, tapi akhlak harus tetap dijaga. Karena pada akhirnya, bukan AI yang menentukan arah peradaban, melainkan manusia yang mengendalikannya,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











