LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Ikatan Mahasiswa Lebak (IMALA) menggelar kegiatan Bakti Pemuda dengan tajuk “Terang dari Akar untuk Indonesia” yang berlangsung di Desa Cikate, Kecamatan Cigemblong. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian pemuda terhadap kondisi pendidikan di wilayah pelosok Kabupaten Lebak.
Rikul, Koordinator Divisi Pendidikan Bakti Pemuda, bersama tim melakukan pendekatan langsung ke sekolah-sekolah di Desa Cikate. Tak hanya menyentuh pendidikan formal, mereka juga menghadirkan berbagai program pendidikan non-formal seperti pelatihan numerasi, penulisan, membaca, hingga program “Kejar Mimpi” di sore hari yang bertujuan memotivasi anak-anak dalam meraih cita-cita.
“Semangat belajar yang sangat tinggi, terbukti juga pada saat kami ke sekolah dan disaat sore hari melakukan pendidikan non-formal. Mereka berbondong-bondong membawa buku dan juga pulpennya, ada juga yang bawa buku cuman satu lembar,” kata Rikul kepada RADARBANTEN.CO.ID, Sabtu 26 Juli 2025.
Sementara itu, Ketua pelaksana bakti pemuda, Alfian Hibatullah, menyampaikan apresiasinya terhadap semangat belajar para siswa di Desa Cikate, khususnya di jenjang SD dan SMP.
“Kami melihat sendiri bagaimana anak-anak tetap semangat meski harus berjalan kaki melewati medan naik turun selama kurang lebih satu jam hanya untuk sampai ke sekolah,” ungkap Alfian.
Namun di balik semangat itu, tersimpan tantangan besar. Tim IMALA menemukan sejumlah anak yang memilih berhenti sekolah, baik di tingkat SD maupun SMP. Bukan karena kehilangan minat belajar, tetapi salah satunya karena faktor kelelahan fisik serta keterbatasan ekonomi keluarga.
“Beberapa anak pada tingkat smp mengatakan mereka awalnya sekolah, tapi kemudian berhenti karena kelelahan berjalan kaki setiap hari. Ada juga yang berhenti karena kondisi ekonomi yang tidak mendukung,” imbuh Alfian.
Melalui kegiatan ini, IMALA mendorong perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat terhadap akses pendidikan di daerah terpencil seperti Cikate. Salah satu hal yang disoroti adalah kebutuhan akan transportasi sekolah, agar siswa tidak lagi harus berjalan kaki sejauh itu setiap hari.
“Ketika tiba di sekolah, baju mereka sudah basah oleh keringat. Tapi semangat belajar mereka luar biasa. Dengan dukungan fasilitas seperti transportasi, kami yakin anak-anak ini bisa belajar dengan lebih nyaman dan bermimpi lebih tinggi,” pungkasnya.
Editor: Abdul Rozak











