Penulis : Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, MM., M.Sc. Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Artinya: Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra’: 1)
Peristiwa Istimewa
Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting dalam Islam. Peristiwa ini adalah perjalanan agung Nabi Muhammad Saw. yang sarat dengan pengalaman dan pengetahuan berharga, tidak hanya bagi beliau, tetapi juga bagi umatnya dan alam semesta.
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Sementara Mi’raj adalah perjalanan beliau dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha, yakni langit tertinggi. Seluruh rangkaian perjalanan Isra Mi’raj terjadi dalam satu malam.
Peristiwa ini sangat penting bagi umat Islam karena pada saat itulah Nabi Muhammad Saw. menerima perintah untuk menunaikan salat lima waktu dalam sehari semalam.
Dalam perjalanan Isra Mi’raj yang penuh keajaiban dan keistimewaan tersebut, Nabi Muhammad Saw. dihadapkan pada pilihan antara kebaikan dan keburukan. Beliau dengan penuh kebijaksanaan memilih susu, yang melambangkan kesucian dan fitrah. Hal ini menjadi gambaran bahwa beliau dan umatnya akan senantiasa berada di jalan kebenaran yang diridhai Allah Swt.
Hikmah besar dari peristiwa Isra Mi’raj, salah satunya, adalah penetapan kewajiban salat lima waktu dalam sehari semalam yang memiliki makna sangat mendalam. Salat menjadi pengingat bagi setiap muslim untuk senantiasa mengingat Allah Swt. di tengah kesibukan hidup sehari-hari.
Isra Mi’raj tidak hanya mengukuhkan pentingnya salat, tetapi juga menegaskan kekuatan iman dan ketakwaan Nabi Muhammad Saw., sekaligus menjadi bukti keajaiban dan kasih sayang Allah Swt. kepada umat manusia. Peristiwa ini menjadi peringatan agar umat Islam menjalankan salat dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Melalui salat, umat Islam dapat memperkuat hubungan dengan Allah Swt., memperoleh ketenangan batin, serta menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Peristiwa Isra Mi’raj juga merupakan ujian keimanan bagi umat Islam, terutama ketika Nabi Muhammad Saw. menyampaikan kisah ini kepada para sahabat. Sebagian orang meragukan peristiwa tersebut, namun mereka yang memiliki iman kuat—seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq—langsung membenarkannya tanpa keraguan.
Peristiwa ini menegaskan pentingnya iman kepada perkara gaib, seperti keberadaan malaikat, Sidratul Muntaha, serta kebesaran Allah Swt. yang melampaui logika manusia. Dengan merenungi Isra Mi’raj, umat Islam diajak untuk memperkuat keyakinan bahwa segala ketentuan Allah Swt. senantiasa mengandung tujuan dan kebaikan.
Pada dasarnya, Isra Mi’raj menyimpan pelajaran berharga, tidak hanya bagi umat Islam pada masa Nabi Muhammad Saw., tetapi juga bagi generasi masa kini. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan dalam menghadapi tantangan kehidupan modern.
Perjalanan Isra Mi’raj mengajarkan bahwa di balik setiap ujian selalu ada pertolongan Allah Swt. Pelajaran ini relevan bagi siapa saja yang ingin menjalani hidup dengan lebih bermakna, dengan memadukan nilai-nilai spiritual, kedisiplinan, kebersihan, serta keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari.
Tonggak Kesuksesan
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan pengalaman spiritual yang sangat istimewa bagi Nabi Muhammad Saw. Dari peristiwa tersebut, terdapat sejumlah hikmah yang dapat dipetik oleh umat Islam.
Di antara hikmah Isra Mi’raj adalah sebagai berikut.
Pertama, menegaskan bahwa perintah salat lima waktu merupakan ibadah yang sangat agung bagi umat Islam.
Kedua, menunjukkan besarnya rahmat Allah Swt. dan kasih sayang Rasulullah Saw. kepada umatnya, sehingga kewajiban salat yang semula lima puluh waktu diringankan menjadi lima waktu saja. Hal ini juga menumbuhkan keyakinan akan kemahakuasaan dan kehendak Allah Swt. atas segala sesuatu, serta memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya melalui perjalanan Nabi yang terjadi hanya dalam satu malam.
Ketiga, menegaskan bahwa salat merupakan dialog langsung antara hamba dan Rabb-nya, sebagaimana Rasulullah Saw. menerima perintah salat langsung dari Allah Swt. saat Isra Mi’raj.
Isra Mi’raj mengantarkan Rasulullah Saw. menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah Swt. Dalam perjalanan ini, beliau diperlihatkan berbagai keadaan yang menakjubkan dan bertemu dengan para nabi terdahulu, termasuk Nabi Ibrahim a.s. sebagai bapak para nabi. Semua peristiwa tersebut menjadi fondasi spiritual dalam mencapai tonggak keberhasilan dan kesuksesan sejati.
Peristiwa Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa spiritualitas merupakan sumber utama kekuatan, keberhasilan, dan kesuksesan dalam menghadapi tekanan hidup. Umat Islam diajak untuk tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik atau materi, tetapi juga memperkuat hubungan spiritual dengan Allah Swt.
Oleh karena itu, hikmah yang dapat diambil antara lain:
Pertama, dalam setiap kesulitan selalu ada pertolongan Allah Swt. yang datang dengan cara yang tidak terduga.
Kedua, peningkatan spiritualitas mampu memberikan ketenangan hati dan kekuatan dalam menghadapi berbagai cobaan.
Ketiga, pentingnya menjadikan ibadah sebagai sumber motivasi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, pelajaran dari peristiwa Isra Mi’raj—seperti kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan terhadap pertolongan Allah Swt.—mendorong umat Islam untuk senantiasa berpegang pada nilai-nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui refleksi peristiwa ini, umat Islam dapat belajar mengelola tantangan hidup modern tanpa kehilangan hubungan spiritual dan prinsip-prinsip agama.
Semoga.
Penulis adalah penulis buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional, Buku Manajemen Transformasi Pendidikan, serta dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten











