CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Wilayah Banten meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon memberikan jaminan kepastian terhadap investasi jaringan fiber optik.
Hal itu dinilai penting agar penyelenggara jasa internet tidak mengalami kerugian akibat perubahan kebijakan maupun proyek infrastruktur yang berulang.
Permintaan tersebut disampaikan Ketua APJII Wilayah Banten, Syarifuddin, saat Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) APJII Banten yang digelar di Aston Cilegon Boutique Hotel, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut Syarifuddin, investasi pembangunan jaringan fiber optik membutuhkan biaya besar sehingga diperlukan kepastian kebijakan jangka panjang dari pemerintah daerah.
“Investasi fiber optik itu tidak murah. Di beberapa daerah memang ada aduan terkait penataan kabel, tetapi di Cilegon sejauh ini belum ada,” katanya.
Ia menjelaskan, selama ini para penyelenggara jasa internet telah mengikuti arahan pemerintah daerah terkait penataan jaringan.
Mulai dari pemindahan tiang hingga penataan kabel agar lebih rapi dan tidak mengganggu estetika kota.
Namun, setelah jaringan dipindahkan sesuai arahan, beberapa tahun kemudian muncul kebijakan baru yang mengharuskan kabel ditanam di bawah tanah.
Kondisi tersebut membuat penyelenggara harus kembali mengeluarkan biaya investasi.
“Sudah ikut pemerintah daerah untuk menggeser tiang dan menarik kabel baru. Setelah itu diminta lagi turun ke bawah tanah,” ujarnya.
Tidak hanya itu, jaringan yang sudah ditanam di bawah tanah juga berpotensi terdampak pekerjaan infrastruktur lainnya, seperti pembangunan drainase.
“Setelah turun ke bawah tanah, ada pekerjaan drainase yang menggali lagi. Akhirnya kabel kami terdampak kembali,” ungkapnya.
Ia menambahkan, APJII pada dasarnya mendukung program pemerintah dalam merapikan kabel-kabel utilitas di ruang publik.
Namun, seluruh program pembangunan perlu diselaraskan agar tidak saling berbenturan.
“Jangan sampai ada program pemerintah yang belum selesai, kemudian program lain datang mengacak-acak lagi kabel. Pada dasarnya kami mendukung perapihan kabel,” tuturnya.
Syarifuddin mengungkapkan, biaya pembangunan jaringan fiber optik mencapai sekitar Rp 70 ribu per meter.
Dengan panjang jaringan sekitar enam kilometer atau 6.000 meter, nilai investasi yang dikeluarkan perusahaan cukup besar.
“Per meter sekitar Rp 70 ribu. Kalau di Cilegon ada jaringan sepanjang enam kilometer, tentu nilainya sangat besar. Itu yang menjadi kerugian apabila harus digali atau dipindahkan lagi,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











