CILEGON – Setelah keluar dari penjara, mantan Walikota Cilegon Tb Aat Syafaat membantah kabar adanya aliran dana yang masuk ke dalam rekening pribadinya terkait dengan proyek pembangunan dermaga (trestle) Kubangsari 2010 silam. Pernyataan Aat itu menyusul adanya keterangan yang terungkap dalam sidang perdana kasus proyek pembangunan trestle tersebut di Pengadilan Tinggi Tipikor PN Serang, Selasa (22/12/2015) lalu.

Dikabarkan, melalui rekeningnya, Aat menerima sejumlah aliran dana dari Direktur PT Baka Raya Utama (BRU) Lizma Imam Riyadi (alm) selaku pihak pelaksana proyek dengan cara meminjam bendera PT Galih Medan Perkasa (GMP). “Siapa yang mengalirkan? Kan semuanya sudah diperiksa dan tidak ada. Yang ada itu cuma asumsi, karena saya punya tabungan besar yang saya peroleh dari menjual ruko dan melelang mobil pada waktu itu. Jadi, tidak ada aliran dana sama sekali,” ujarnya saat menggelar konferensi pers di kawasan proyek Islamic Center Cilegon, Rabu (23/12/2015).

Aat menuturkan, pada waktu yang berbarengan dengan pelaksanaan proyek, jumlah rekeningnya mengalami peningkatan sekira Rp5 miliar. “Ruko itu saya jual Rp3 miliar sedangkan beberapa mobil dump truk saya jual Rp2 miliar, jadi totalnya Rp5 miliar. Kalau tidak salah, uang hasil penjualan itu dimasukkan oleh ajudan saya, dan itu sudah saya bawa ke persidangan semua. Nah, kenapa sekarang ini malah muncul lagi,” katanya.

Secara prinsip, lanjut Aat, dirinya tidak lagi mempersoalkan permasalahan itu. Namun untuk meluruskan kasus yang sempat menyeretnya ke hukuman penjara selama 3 tahun 6 bulan itu, ia mengaku siap memberikan keterangan bila memang dibutuhkan. “Tentu saya sangat siap memberikan keterangan bila dipanggil oleh pengadilan,” tandasnya. (Devi Krisna)