Presiden Direktur LG Electronics Indonesia Seungmin Park (tengah) bersama Head Of EPES-UI (kanan) Iwa Garniwa di acara seremoni sertifikasi perangkat pendingin LG di Jakarta, Selasa (14/8). Foto: JawaPos.com

JAKARTA – LG baru saja mendapatkan sertifikat hemat listrik untuk air conditioner (AC). Sertifikat tersebut didapatkan LG setelah melewati serangkaian pengujian dari lembaga Electric Power and Energy Studies (EPES) dari Universitas Indonesia (UI).

Adapun produk AC yang mendapat sertifikat dari EPES-UI datang dari dua kategori AC yang dibekali teknologi inverter, yakni Floor Standing AC (5 PK) dan Ceiling Cassette AC (4 PK). Dengan pengembangan berbasis teknologi inverter di dalamnya, produk ini diklaim lebih hemat listrik yang mengisi ceruk kebutuhan pendingin ruangan antara hunian dan gedung.

Presiden Direktur LG Electronics Indonesia Seungmin Park mengatakan, terlibatnya UI dalam pengujian perangkat AC LG berangkat dari kesamaan pandangan, yakni soal isu energi.

“Krisis energi menjadi perhatian global termasuk Indonesia. Bersanding dengan pihak terkait dalam hal ini pihak terkait di Indonesia, LG siap menjadi bagian dari kampanye hemat energi ini,” ujarnya di acara seremoni sertifikasi perangkat pendingin LG di Jakarta, Selasa (14/8), sebagaimana dilansir JawaPos.com.

Seungmin Park mengklaim bahwa hasil teknologi inverter yang telah di uji UI terbukti mampu hemat energi sebesar 62 persen penggunaan listrik untuk AC Floor Standing dan 50 persen untuk AC Ceilling Cassete. “Berbekal hasil pengujian dan sertifikat dari UI ini, konsumen akan menjadi lebih percaya kepada produk AC LG Inverter dan akan lebih merasakan keuntungan berkat penghematan daya yang dibawanya,” terangnya.

“Pada akhirnya diharapkan bahwa ini akan menarik lebih banyak konsumen menggunakan AC berteknologi inverter sehingga mendukung Indonesia yang lebih hijau,” tambah Seungmin Park.

Pengujian AC pada EPES-UI dilakukan sepanjang dua bulan dengan kategori produk dan besaran PK seperti dijelaskan di atas. Dua pengaturan suhu ditetapkan, yakni 18 derajat Celcius dan 24 derajat Celsius. Hal tersebut mewakili dua kutub temperatur yang biasa dimanfaatkan dalam pemakaian AC.

Menambah kejelian dalam hasil, periset EPES-UI membagi tiap kondisi temperatur ini ke dalam tiga beban pendinginan. Hal ini dibuat untuk semakin mendekati gambaran penggunaan nyata dengan perubahan kondisi suhu lingkungan sekitar sepanjang hari.

Pengukuran beban pendinginan 20 persen mewakili suhu sekitar cenderung sejuk seperti di malam hari. Sementara, pendinginan 50 persen saat cuaca normal cenderung panas hingga beban pendinginan 100 persen yang mewakili saat AC bekerja pada cuaca terik.

Head Of EPES-UI Iwa Garniwa menjelaskan, dari berbagai pengujian hasil dengan kedua kategori AC tersebut, menggunakan kompresor inverter mampu menekan penggunaan listrik secara signifikan dibandingkan produk sejenis tanpa teknologi inverter.

“Berdasarkan hasil pengujian kami, dengan besaran daya sebesar 5 PK, LG adalah brand yang memiliki kategori konsumsi produk AC dengan inverter terhemat. Pada AC Floor Standing dengan daya 4 PK, penghematan dayanya mencapai 50 persen. Sementara yang Ceilling Cassete dengan daya 5 PK mencapai 62 persen,” kata Iwa di kesempatan yang sama.

Kendati pengujian hanya dilakukan pada dua sampel produk AC, LG mengaku kedua produk tersebut telah mewakili kategori produk AC dengan inverter lainnya yang dimiliki LG. Keyakinan itu mengacu pada besaran PK yang diuji tadi.

Pihak LG sesumbar bahwa untuk yang PK-nya besar saja bisa hemat listrik, apalagi yang PK-nya kecil yang banyak dikonsumsi rumah tangga. Selain itu, dengan diraihnya sertifikat hemat energi dari EPES-UI, nantinya setiap produk AC akan disertakan stiker khusus dari EPES-UI. (jpg/aas/dwi)