Lagi-lagi pasangan muda. Mungkin karena masih labil dan belum puas menikmati pengembaraan cinta, pasangan suami-istri, Juned (32) dan Wati (30), keduanya nama samaran, diterjang gelombang besar problematika rumah tangga. Sama-sama tak bisa mengontrol diri, mereka saling meninggikan emosi.

    Entah karena bosan atau mungkin tak lagi cinta, keberadaan sang buah hati tak mampu menjadi benteng bagi Juned menahan beratnya beban bahtera rumah tangga. Berjalan dua tahun usia pernikahan, bukannya semakin kuat malah jadi penuh karat.

    “Saya enggak menyangka bisa mengalami hal rumit ini sama dia. Ini benar-benar bikin saya drop, enggak kuat, Kang!” curhat Wati kepada Radar Banten.

    Padahal, seperti diceritakan Wati, hubungan asmara dengan Juned sudah terjalin sejak SMA. Mereka bertemu ketika masih sama-sama bau kencur. Belum mengerti arti cinta sesungguhnya, bahkan pacaran pun masih dalam tahap senang-senang saja.

    Hebatnya, waktu itu mereka mampu bertahan tiga tahun lamanya. Di tengah godaan teman wanita yang jauh lebih cantik dan lelaki tampan, baik Juned maupun Wati mampu mempertahankan hubungan. Kisah asmara mereka menyita banyak perhatian.

    Guru-guru di sekolah pun memuji kesetiaan Juned dan Wati lantaran bisa bertahan sampai lulus SMA. Hingga keduanya sempat berpisah karena sibuk bekerja membantu ekonomi keluarga, kisah cinta mereka sempat tak jelas arah dan tujuannya.

    Tapi yang namanya cinta, Juned seolah tak rela Wati menghilang begitu saja. Bekerja di sebuah perusahaan ternama di Cilegon, ia merasa sudah mampu membangun bahtera rumah tangga. Apa mau dikata, meski dengan modal seadanya, ia nekat membawa serta orangtua ke rumah sang kekasih.

    “Waktu itu saya benar-benar kaget, dia datang tiba-tiba dan langsung mau melamar. Kan saya enggak ada persiapan,” tuturnya.

    Meski terkesan memaksakan, acara lamaran malam itu tetap terlaksana. Setidaknya, ketakutan Juned akan kehilangan sang kekasih tercinta bisa teratasi karena sudah ada ikatan. Tak lama berselang, hanya dalam waktu sebulan mereka menuju jenjang pernikahan.

    Dengan pesta sederhana, hanya mengundang tetangga dan orang terdekat, hari bahagia itu menjadi hari bersejarah bagi Juned dan Wati. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Dengan usia yang sebenarnya terbilang muda, mereka siap membangun bahtera rumah tangga.

    Di awal pernikahan, Juned menjadi suami yang baik dan perhatian, baik kepada istri maupun mertua. Setiap gajian, pasti membawa makanan. Biasalah, hitung-hitung cari perhatian dan beradaptasi dengan lingkungan. Perlakuan serupa tak jauh berbeda dilakukan Wati kepada keluarga suami.

    Senang mengirimi makanan ke rumah mertua, Wati juga mencoba beradaptasi agar mendapat kesan baik di mata keluarga. Hasilnya, baik Juned maupun Wati sama-sama disayang mertua. Rumah tangga mereka berjalan sempurna, pokoknya, mereka hidup bahagia.

    Memasuki tahun pertama, lahirlah bayi lelaki lucu kebanggaan pasangan muda itu. Hubungan dengan kedua keluarga pun semakin harmonis. Namun terkadang kebahagiaan memang tak selaras dengan keabadian. Lantaran tergiur ajakan teman untuk berbisnis dengan penghasilan lumayan, Juned melayangkan surat pengunduran diri di tempatnya bekerja.

    Apa mau dikata, meski di bulan pertama mereka masih merasa aman, tetapi bulan-bulan selanjutnya, Juned dan Wati mulai merasa kekurangan. Bisnis yang dibangun sang suami tak berjalan mulus. Apesnya, sudah mengeluarkan dana jutaan rupiah, ia ditipu teman yang awalnya menjanjikan penghasilan melebihi gaji selama bekerja di perusahaan. Aih-aih, parah amat.

    “Saya waktu itu kesal sama dia, sudah enak-enak kerja, ini malah ketipu sama teman sendiri,” curhatnya.

    Lantaran tak berdaya, akhirnya, Wati pun turun tangan dalam mencari penghasilan. Lagi-lagi, atas ajakan teman, ia ikut sebuah grup bisnis berjualan online. Tak disangka, meski penghasilan tak seberapa, setidaknya ia mampu membantu ekonomi rumah tangga.

    Berjualan berbagai produk kecantikan sampai peralatan rumah tangga, dengan jejaring sosial dan grup bisnis di aplikasi WhatsApp, Wati menikmati proses berbisnis secara online. Namun seolah dimanfaatkan sang suami, kerja keras Wati ke sana-sini mengantar produk jualannya, justru tak membuat Juned berpikir. Ia malah asyik menikmati pengangguran dengan sering keluar malam. Aih-aih, benar-benar keterlaluan tuh Kang Juned.

    “Awalnya saya sih masih bisa mengerti, mungkin dia lagi cari pelarian karena stres mikirin kegagalan bisnisnya. Tapi lama-kelamaan, malah jadi kebiasaan,” ungkap Wati.

    Dan suatu hari, entah dapat bisikan dari siapa, sikap dan perilaku Juned terhadap sang istri bagai detektif yang sedang mencari bukti atas suatu kejahatan. Dengan tatapan tajam, Juned menanyakan kegiatan sang istri yang banyak berinteraksi dengan gadget.

    Hingga Wati tak kuasa menahan amarahnya, diamuknya sang suami yang saat itu tak berpikir dua kali, ketika menuduh sang istri punya pacar lagi. Astaga, kok dia bisa ngomong begitu sih, Teh?

    “Ya makanya, saya juga heran. Saya capek-capek kerja jualan online buat tambah penghasilan, dia seenaknya saja menuduh saya punya selingkuhan,” curhatnya.

    Apa mau dikata, bagai perang dunia kedua, keributan di antara mereka turut memancing perhatian tetangga. Parahnya, saking tak kuasa menahan emosi, sang anak yang menangis kencang pun tidak dihiraukan. Beruntung saat itu datang ketua RT setempat yang tinggal tak jauh dari rumah. Juned dan Wati pun dipisahkan.

    “Sumpah waktu itu saya kayak orang kesurupan, Kang. Mungkin memang lagi capek seharian ngurus anak, ngurus rumah, antar barang ke pelanggan, eh pas suami pulang malah ngomong begitu,” terang Wati.

    Seperti diceritakan Wati, setelah terjadi musyawarah besar-besaran mengundang kedua keluarga, ternyata, sang suami bisa bersikap seperti itu lantaran dipengaruhi teman-teman. Katanya, kalau istri sibuk main gadget itu bisa jadi punya pacar lagi. Sejak saat itu, Wati pun menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya.

    Beruntung, berkat kepala dingin para orangtua dan saudara, rumah tangga Wati dan Juned masih bisa terselamatkan. Mencoba saling introspeksi diri satu sama lain, akhirnya, mereka pun kembali sepakat untuk melanjutkan bahtera rumah tangga bersama sang anak tercinta. Hebatnya, hanya butuh tiga hari pasca keributan, Juned dan Wati sudah bisa saling memberi senyuman. Ciyee.

    “Ya alhamdulillah waktu itu berkat nasihat orangtua, kami bisa balik lagi. Ya semoga kejadian kayak begini enggak terulang lagi,” ungkapnya bahagia.

    Semoga kang Juned sadar dan bisa dapat pekerjaan mapan, tetap harmonis dan semangat ya Teh Wati! (daru-zetizen/zee/ira)