Ada Janda di Balik Suami Sok Mesra

0
301

      Beratnya membangun rumah tangga memang begitu terasa, urusan ekonomi mengungkung perih, bisa menjadi penyebab datangnya masalah hati. Ya, kira-kira begitulah yang dialami Munah (51) nama samaran yang dikhianati sang suami tercinta, sebut saja namanya Koplak (56).

Memiliki istri cantik dan dua anak, nyatanya tak membuat Koplak puas akan hidupnya. Ya, namanya manusia entah karena tergiur nafsu dunia atau memang tak setia, pengkhianatan itu terjadi ketika Munah berusia 37 tahun dan Koplak 42 tahun. Aih, kok bisa sih, Teh?

“Saya juga enggak nyangka dia bisa begitu, Kang. Padahal, sebelum nikah ngomongnya mah mau setia sampai mati,” kata Munah kepada Radar Banten.

Munah bercerita, Koplak sebenarnya termasuk lelaki pendiam. Namun, ia punya banyak teman. Terlahir dari keluarga tak punya, ayah pekerja dan ibu sibuk di rumah, Koplak muda hidup penuh perjuangan. Melakukan berbagai pekerjaan demi membantu keluarga, ia lelaki mandiri.

Singkat cerita, hingga beranjak dewasa, dipertemukanlah ia dengan Munah, anak rekan sang ibu yang menjadi pilihan untuk dijadikan istri. Tak ingin terburu-buru melangkah ke pelaminan, Koplak dan Munah waktu itu sempat menikmati masa pacaran.

Saling mengerti dan memahami karakter masing-masing, baik Koplak maupun Munah bersatu dalam ikatan cinta. Sifat sang lelaki yang cuek tapi perhatian, membuat Munah nyaman. Soalnya, Munah mengaku, Koplak waktu itu memperlakukannya sangat lembut.

Munah sendiri wanita desa yang memiliki kecantikan alami.  Dengan kondisi ekonomi yang minim, terkadang membuatnya jarang bersentuhan dengan make-up mahal. Meski begitu, Munah mengaku, banyak lelaki mengejarnya. Katanya, selain Koplak, sebenarnya banyak lelaki mengantre untuk meminangnya.

Singkat cerita, pesta pernikahan pun digelar alakadarnya. Hanya mengundang tetangga dan teman kedua mempelai, hari bersejarah bagi Munah dan Koplak berjalan lancar. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, Koplak dan Munah langsung tinggal bersama keluarga sang wanita. Seolah ingin segera menambah kebahagiaan kedua keluarga, baru beberapa bulan pasca pernikahan, Munah sudah dikabarkan tengah mengandung, hingga akhirnya lahirlah sang buah hati tercinta.

Hingga lima tahun lebih berumah tangga, banyak suka duka yang datang menerpa. dengan anak yang mulai tumbuh remaja, Koplak dan Munah berjuang bersama mendidik serta memberi kehidupan indah bagi putranya. Namun apalah daya, lantaran tak juga mendapat kesejahteraan, Koplak memutuskan mengajak istri dan anaknya pindah ke Jakarta.

Setelah mendapat restu orangtua, berangkatlah Koplak dan Munah ke tanah rantau. Di sana seolah sudah merencanakan semuanya, Koplak langsung menemukan tempat tinggal dan pekerjaan dari teman. Meski hidup di kontrakan yang saling berhimpitan, saat itu Munah mengaku senang.

“Ya, namanya baru pertama hidup di kota. Rasanya bisa punya tempat tinggal dan bertahan juga bahagia banget. Kang Koplak waktu itu cuma pekerja proyek biasa, tapi cukuplah buat makan mah,” curhat Munah.

Suatu ketika lahirlah anak kedua. Kehadiran bayi perempuan lucu, membuat rumah tangga mereka semakin berwarna. Koplak pun menjadi lebih semangat bekerja. Seiring berjalannya waktu, sang anak mulai tumbuh balita. Cobaan hidup pun semakin terasa.

Anehnya, suatu hari, di tengah keterhimpitan ekonomi, entah dapat ilham dari mana, sikap Koplak justru tak biasa. Semakin perhatian dan lembut pada istri, ia membuat Munah curiga. Aih, harusnya seneng atuh Teh, kok malah curiga?

“Ya seneng sih, cuma aneh gitu, Kang. Biasanya dia suka diam gitu kalau lagi enggak ada makanan. Terus paling ujung-ujungnya pergi utang ke warung. Lah, ini mah ada atau enggak ada makanan, dia manjain saya gitu,” terang Munah

Satu minggu bertingkah aneh, Koplak semakin membuat Munah tak nyaman ketika pulang membawa tas mahal. Katanya, itu spesial dibelikan untuk Munah. Tak hanya itu, ia juga membeli tas dan baju baru untuk anaknya. Ketika ditanya, Koplak hanya menjawab baru mendapat rezeki.

Puncaknya, Koplak pulang membawa mobil mewah. Saat itu ia mengaku itu milik bosnya. Kepada Munah, Koplak selalu bersikap lembut dan cenderung menurut. Tak lagi bekerja seperti biasa, mereka banyak menghabiskan waktu jalan-jalan keliling kota.

“Awalnya saya sempat curiga. Tapi, setelah dia bilang kerja jadi sopir pribadi orang kaya, ya tentu saya bahagia. Ya, sudah saya juga ikut menikmati,” kata Munah.

Sebulan kemudian, jawaban atas keanehan yang terjadi pada Koplak pun terungkap. Di tengah malam, ketika kedua anaknya tertidur lelap, Koplak mengelus kening sang istri sambil berbisik mesra. Munah pun terbangun dan meladeni suaminya.

Mengawali obrolan dengan mengenang masa-masa susah rumah tangga, Munah tersenyum bahagia sambil memeluk suaminya. Setelah sukses membuat sang istri nyaman, mulailah Koplak mengatakan sesuatu yang membuat Munah seketika menitikkan air mata. Ibarat dibawa terbang tinggi lalu diempaskan ke bumi, Munah menangis histeris. Aih, kenapa, Teh?

“Dia ngaku semua barang yang dia kasih ke saya, termasuk mobil yang sering kita pakai, itu punya wanita berstatus janda yang nikah siri sama Kang Koplak,” tukas Munah. Astaga. Keterlaluan amat ya, dasar Kang Koplak.

Sejak saat itu, seminggu lebih Munah menjalani hari bagai hidup segan mati tak mau. Hubungannya dengan Koplak tak lagi dianggapnya sebagai lelaki yang dapat diharapkan. Seolah tak cukup terpuaskan dengan keributan yang terjadi, Munah lebih banyak diam. Tak lama kemudia, perceraian pun menjadi jalan keluar yang menyedihkan.

Ya ampun, sabar ya Teh. Semoga Teh Munah dapat suami baru yang jauh lebih baik daripada Kang Koplak. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)