Foto: Kemenag

JAKARTA – Ada referensi pelaporan, jika hilal awal Ramadan 1437H teramati di wilayah Indonesia. Ada referensi empirik jika hilal awal Ramadlan 1437H teramati di wilayah Indonesia pada Minggu (5/6).

Penegasan ini disampaikan peneliti Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama Cecep Nurwendaya saat memberikan paparan mengenai posisi hilal Awal Ramadan 1437H dalam rangkaian pelaksanaan sidang itsbat (penetapan) awal Ramadan 1437H yang digelar Kementerian Agama di Gedung Kemenag, Jl. MH. Thamrin No. 6, Jakarta, Minggu (5/6).

Hadir dalam kesempatan ini, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Umum MUI yang juga Rois Syuriah PBNU KH Makruf Amin, para pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama, perwakilan dari Ormas Islam seluruh Indonesia, serta para perwakilan Duta Besar Negara sahabat.

“Ada referensi pelaporan hilal jika hilal awal Ramadlan 1437H pada hari Ahad tanggal 5 Juni 2016 teramati dari Wilayah Indonesia,” terang Cecep, seperti dilansir Kemenag.

Menurutnya, ijtimak terjadi pada hari Minggu (5/6) sekitar pukul 10.00 WIB. Untuk di Pelabuhan Ratu, posisi hilal saat terbenamnya matahari adalah 4 derajat 12 menit dengan umur bulan 7 jam 43 menit 19 detik.

Sebagai referensi, Cecep menjelaskan, hilal Syawal 1404 H dengan tinggi 2 derajat dan ijtimak pada pukul 10.18 WIB pada 29 Juni 1984 berhasil dilihat oleh: Muhammad Arief (33) Panitera Pengadilan Agama Pare-Pare dan Muhadir (30) Bendahara Pengadilan Pare-Pare. Selain itu, Abdul Hamid (56) dan Abdullah, keduanya guru agama di Jakarta, juga dapat melihat hilal pada saat itu.

“Mamur Guru Agama Sukabumi dan Endang Efendi Hakim Agama Sukabumi, juga melihat hilal saat itu,” tandasnya.

“Jadi ada referensi pelaporan hilal jika hilal awal Ramadlan 1437H pada hari Ahad tanggal 5 JuNi 2016 teramati dari Wilayah Indonesia,” tambahnya. (Aas/Kemenag)