Ada Sekolah Utang Rp 20 Juta Demi Perbaiki Kelas, Ini Komentar Wabup Serang

0
946 views

SERANG – Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa angkat bicara terkair adanya sekolah di Kabupaten Serang yang nekat utang sebesar Rp 20 juta demi memperbaiki ruang kelas.

Kepada awak media, Pandji menjelaskan, Pemkab Serang akan mempelajari informasi tersebut terlebih dahulu. Pandji nampak baru mengetahui kondisi miris tersebut dari awak media.

“Coba kita pelajari dulu. Pemda harus peduli.Yang dialami sekolah, kita pajari, apa penyebab kesulitan keuangan yang dialami sekolah,” ujar Pandji kepada awak media, Sabtu (29/7).

Pemkab Serang sangat memungkinkan untuk memberikan Bantuan kepada sekolah, hanya saja, sekolah tersebut harus mengajukan proposal terlebih dahulu dan memiliki badan hukum yang jelas. “Mungkin dia belum mengajukan proposal,” ujarnya.

Sebelumnya, seperti yang diberitakan Radar Banten Online, amat miris kondisi yang dialami Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mathlaul Anwar di Desa Susukan Sampang, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Demi memperbaiki ruang kelas yang alami kerusakan pada plafon, bangku, meja, jendela, lemari dan atap, pihak sekolah harus rela hutang hingga mencapai Rp 20 juta.

Langkah berhutang terpaksa diambil oleh pihak pengelola sekolah karena ketiadaan biaya dan kondisi yang sangat mendesak serta demi keselamatan para murid yang belajar di sekolah tersebut.

“Kami sudah berinisiatif memperbaiki atap yang bocor dengan merenovasi seadanya saat libur sekitar bulan juni. Demi anak didik, sekolah kami terpaksa meminjam uang untuk membeli beberapa material seperti asbes, kayu, paku, kaso dan material lainnya. Uang yang kami pinjam sejumlah Rp 20 juta rupiah,” ungkap Kepala Sekolah MI Mathlaul Anwar Marlinah pada Radar Banten Online, Selasa (25/7).

Marlinah bercerita, beberapa kelas seperti kelas 3, 4 dan 5 alami kebocoran dan banjir bila sedang musim hujan. Lagi-lagi dengan alasan masalah biaya, siswa pun tetap harus belajar dengan kondisi tersebut.

Untuk memperbaiki sekolah tersebut, menurut Marlinah biaya yang diperlukan bukan Rp 20 juta, namun lebih. Pinjam dilakukan karena biaya yang terkumpul dari hasil sumbangan guru dan wali murid tidak cukup untuk perbaikan, meskipun alakadarnya.

“Kalau nggak dibenerin, kasihan anak didik kami sudah mulai tahun ajaran baru. Bahkan ada siswa yang bilang, Bu mau ditingkat ya. Boro-boro ditingkat, ngebenerin atap yang pada bocor juga belum kesampean semuanya. Dari hasil sumbangan, terkumpul 50 wali murid cuma dapet Rp 5 juga. Sisanya kami pinjam. Keinginannya mah pengen sekolah ini bisa layak. Bangku-bangku mudah rusak karena anak-anak disini memang aktif, jadi begitulah namanya anak-anak,” paparnya. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)