Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Ubaidilah Muchtar

LEBAK – Museum Multatuli dibangun dengan tujuh ruangan dan diwarnai dengan empat tema. Luas museum anti kolonialisme tersebut hanya 230 meter persegi. Ada banyak item didalam museum multatuli, sebagian diproduksi sendiri dan sebagian lainnya didatangkan dari Belanda.

Dikatakan Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Ubaidilah Muchtar, tujuah ruangan tersebut mengusung empat tema. Ruangan pertama merupakan ruangan selamat datang dengan disambut foto ukiran Eduard Douwes Dekker yang dibuat dari kaca, ruang kedua dan ketiga sejarah masuknya kolonialisme ke Indonesia, ruang keempat mengusung tema multatuli dan karyanya, ruang kelima dan keenam Banten dan Lebak, dan yang terakhir ruang ketujuh dengan tema Rangkasbitung dan karyanya.

“Semua ruangan tersebut ada 34 item didalamnya. Sebagian diproduksi oleh kita sendiri, sebagian lagi didatangkan dari Belanda,” ujar Ubaidilah kepada Radar Banten di Museum Multatuli, Selasa (13/2).

Dijelaskannya, barang bersejerah yang didatangkan dari museum Multatuli dari Belanda diantaranya, tegel bekas rumah multatuli tahun 1987, novel edisi perrtama Max Haveelar bahasa Francis tahun 1876, buku-buku lengkap karya Multatuli, surat Multatuli kepada raja ketiga Willem Alexander dan litogerafi Multatuli.

“Itu semua didatangkan dari Belanda dan merupakan hasil riset selama dua tahun lebih. Alhamdulillah, setelah menjalin kerjasama, pihak museum di Belanda akhirnya menghibahkan sebagian artefaknya untuk dibawa ke Indonesia,” ujarnya.

Dalam proses hibah tersebut, pihak museum merasa sangat senang dan bangga, karena barang bersejarah tersebut bisa di nikmati juga oleh bangsa Indonesia. “Tidak ada penolakan, malah mereka sangat senang barang bersejarah tersebut bisa dinikmati oleh warga Indonesia,” tuturnya.

Sebenarnya, ada salah satu item yang belum ditampilkan di museum ini, yaitu hibah replika uang banten dari Bank Indonesia. “Kita masih mengkajinya, akan ditempatkan dimana uang replika tersebut. Dan ada satu lagi yang akan didatangkan dari Belanda, yaitu Payung,” katanya.

Ubaidilah menambahkan, item yang diproduksi sendiri antara lain, replika kapal VOC, Prasasri Cidanghiyang dari Kampung Lebak, Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Pandeglang. Tenun Baduy, Baju Adipati, Kopi dan penggilingannya serta video dokumenter tentang sejarah multatuli. (Omat/twokhe@gmail.com).

BAGIKAN