Adab Islam dan Karantina Pesantren di Masa Pandemi Covid-19

0
12.776 views

Oleh Dr. Fadlullah, S.Ag., M.Si.

Sekretaris Jenderal Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten

Kata “karantina” berasal dari quarantena, bentuk bahasa Venesia yang berarti “empat puluh hari”. Istilah ini berasal dari isolasi kapal selama 40 hari dalam rangka praktik pencegahan penyakit pes. Saat ini, istilah karantina di Indonesia mengemuka terkait dengan wabah Covid-19 dengan masa inkubasi 14 hari.

Penerapan karantina atau lockdown terhadap suatu wilayah tertentu dilakukan dalam rangka mencegah perpindahan orang, baik masuk maupun keluar wilayah tersebut untuk tujuan tertentu yang mendesak, seperti pencegahan penyebaran coronavirus 2019 (COVID-19). Di Indonesia dikenal Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) untuk wilayah provinsi dan kabupaten/kota dan Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL) untuk wilayah kecamatan, kelurahan dan RT/RW. Selama PSBB/PSBL pendatang yang akan masuk ke wilayah tersebut harus memiliki surat izin keluar masuk (SIKM) dari pemegang otoritas dan pendatang di wilayah RT/RW harus dikenal oleh warga setempat. Pendatang juga wajib melapor kepada pengurus RT/RW.

Konsep karantina khususnya PSBL di atas selaras dengan sistem Pondok Pesantren sebagai satuan pendidikan masjid berasrama. Pesantren merupakan subkultur masyarakat di mana kiai bersama santri tinggal dan melakukan interaksi pendidikan di dalamnya. Tidak jarang kiai juga melayani konsultasi keagamaan untuk masyarakat umum dalam memecahkan problematika umat. Tamu atau pengunjung wajib lapor kepada petugas yang berjaga sehingga interaksi sosial di dalam lingkungan pesantren terkendali aman dan tertib.

Realitas pendidikan pesantren terdapat tiga keadaan: (1) Pesantren dengan kondisi sepenuhnya santri mukim dengan interaksi tertutup, (2) Pesantren dengan kondisi sepenuhnya santri mukim dengan interaksi terbuka dengan lingkungan masyarakat. (3) Pesantren melaksanakan pendidikan formal dengan kondisi santri tidak seluruhnya mukim. Ketiga kondisi ini memiliki kompleksitas yang berbeda. Model ketiga lebih rumit dibandingkan dengan model kedua dan pertama. Pesantren dengan kondisi interaksi santri terbuka perlu mengupayakan pengendalian santri tetap di lingkungan pesantren; dan mengatur agar santri yang tidak mukim tidak memasuki wilayah asrama. Kemudian berkoordinasi dengan tim satgas covid-19 pada tingkat desa/ kelurahan setempat terkait kedatangan santri.

Pondok Pesantren dengan sistem asrama mengadopsi konsep karantina lokal sehingga sangat mungkin untuk melakukan adaptasi kebiasaan baru yang dicanangkan Pemerintah. Penerapan protokol keshatan di pesantren sama mudahnya dengan pembukaan Masjid di tingkat RT/RW. Lebih mudah dibandingkan pembukaan tempat hiubaran yang sudah dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah. Meskipun demikian, para kiai pimpinan pondok pesantren perlu memiliki pedoman khusus pelaksanaan pendidikan di pondok pesantren di musim pandemi Covid-19 sehingga lebih terarah, terorganisir, dan dapat “mengunci risiko” wabah Covid-19 secara bijaksana.

Pesantren membentuk gugus tugas covid-19 dan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehtan melalui puskesmas untuk melakukan adaptasi kenormalan baru dengan implementasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sesuai protokol kesehatan. Sebelum kedatangan santri, gugus tugas Covid-19 Pondok Pesantren melakukan desinfektan sarana belajar di lingkungan Pesantren, seperti meja, kursi, papan pintu, dinding dan sebagainya. Juga menyediakan tempat cuci tangan (wastafel) yang memadai dengan air mengalir dan sabun.

Setelah segala persiapan dilakukan, pesantren menginstruksikan kepada santri untuk melakukan karantina mandiri di rumah sekurang-kurangnya 8 (delapan) hari sebelum santri datang ke pondok. Saat santri datang ke pondok membawa surat pernyataan telah melakukan karantina mandiri yang ditandatangani oleh orang tua/wali.

Pesantren melakukan pengaturan masuk berdasarkan zona. Santri dari zona merah masuk pondok lebih awal untuk mengikuti program karantina selama 14 hari.

Setelah santri di zona merah selesai melaksanakan karantina mandiri, kemudian santri dari zona hijau masuk pondok. Gugus tugas Covid-19 Pesantren dengan bantuan Puskesmas atau layanan kesehatan lainnya melakukan pengecekan kondisi umum (KU) kesehatan santri. Seperti suhu badan, memastikan tidak adanya gejala covid19 seperti demam, sakit kepala, ruam kaki, diare, flu, batuk, sakit kulit; dan santri tidak memiliki riwayat sakit bawaan.

SKRINING SANTRI

Pisahkan santri yang sehat dari yang sakit. Santri dengan suhu badan di atas 38; yang memiliki riwayat sakit bawaan dan atau kurang sehat disarankan untuk kembali ke Rumah. Mereka dianjurkan untuk melakukan Rapid Test dan melakukan Swab untuk mereka yang hasil rapid test nya reaktif.

Santri yang lolos skrining kesehatan menjalani program masa inkubasi 14 Hari. Selama masa inkubasi, Pesantren mengatur belajar santri di Kelas dengan pola shift. Durasi waktu pembelajaran disederhanakan dan kegiatan di kelas mengunakan physical distancing dengan jumlah santri maksimal 20 orang.

Para santri melaksanakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan tidak menimbulkan stres, seperti tadarus dan tadabur Alquran, olahraga, serta istirahat dan tidur yang cukup. Santri dengan bimbingan Kyai dan adatidz memperbanyak dzikir dan doa untuk keselamatan bangsa dan umat manusia dari ancaman wabah Covid-19.

Dalam interaksi sosial di lingkungan pesantren, santri menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sesuai protokol kesehatan covid19 seperti cuci tangan dengan air mengalir dan sabun. Membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah beraktifitas selama 20 detik hingga bersih. Menghindari menyentuh wajah, hidung atau mulut saat tangan masih kotor sebelum cuci tangan. Membiasakan etika batuk dan bersin seperti menutup hidung dan mulut ketika bersin atau batuk dengan tisu dan membuang tisu ke tempat sampah. Membiasakan diri memakai masker bagi yang sakit batuk atau bersin.

Santri dilatih bergotong royong menjaga kebersihan lingkungan pondok dan kebersihan kamar. Santri menjauhkan diri dari kebiasaan yang mendatangkan jamur serta sumber bakteri jahat, seperti bertukar handuk dan menyimpan pakaian kotor di kamar.

Pesantren menjaga imunitas tubuh santri dengan menyediakan makanan dan minuman yang sehat. Pesantren memberikan makanan yang memenuhi gizi seimbang. Terutama sarapan pagi santri yang mengandung vitamin C seperti sayuran dan buah-buahan. Pesantren juga melakukan pengecekan terhadap menu jajanan yang disajikan di kantin. Menu harus dijamin bersih dan higienis.

Selain itu, pesantren menyediakan unit kesehatan pesantren (puskestren). Pesantren berkoordinasi dengan Puskesmas atau layanan kesehatan lainnya untuk melakukan intervensi tindakan kesehatan bila ditemukan santri yang mengalami gejala Covid-19 atau sakit lainnya. Sebagai bentuk pertolongan pertama, Puskestren menyediakan obat-obatan untuk gejala ringan dan suplemen vitamin-C untuk santri yang terindikasi sakit.

Setelah menerapkan program inkubasi selama 14 hari dan tidak ada kasus yang berarti, maka kegiatan Pesantren berjalan normal seperti biasa. Namun pengendalian terhadap faktor-faktor yang berpotensi membawa masuknya Covid-19 ke dalam Pesantren harus diperketat. Misalnya, dengan menerapkan ijin keluar masuk bagi guru, tenaga kependidikan dan santri serta setiap orang yang datang ke pesantren seperti tamu, orangtua murid/ wali, penyedia barang bagi pesantren dan lainnya. Kemudian memperlakukan protokol kesehatan covid19 kepada semua tamu/pengunjung dengan pengecekan suhu, cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer, dan mengenakan masker.

Dengan menjaga dan mengamalkan adab Islam secara konsisten insya Allah pondok pesantren menjadi pelopor kebersihan lingkungan dan kebersihan diri, serta kesucian hati dan pikiran, sehingga terwujud masyarakat yang sehat bebas dari virus termasuk Covid-19. Adab tersebut meliputi: budaya cuci tangan, berwudhu secara sempurna, mandi, pake masker bagi yang batuk/bersin, makan/minum yang halal dan bergizi seimbang; rajin sholat, zikir, doa dan tadabbur Al Qur’an, serta olah raga dan istirahat yang cukup. Adab Islam tersebut dilakukan sebagai bagian dari penerapan protokol kesehatan selama Pandemi untuk menjaga keselamatan jiwa (hifdz an-nafs). Dengan ikhtiar ini, semoga pendidikan Pesantren terus berkontribusi untuk kemajuan umat bangsa dan negara. (*)