Adakan Perayaan Tahun Baru, Hotel Disanksi

0
2.512 views
Salah satu hotel di kawasan Pantai Anyar yang biasanya ramai saat perayaan Tahun Baru. Lantaran pandemi, Pemprov memgeluarkan larangan untuk perayaan malam Tahun Baru 2021.

SERANG – Pemprov Banten melarang seluruh tempat usaha berupa hotel maupun restoran untuk mengadakan perayaan pergantian tahun yang dapat mengakibatkan terjadinya kerumunan. Apabila membandel, pengusaha hotel dan restoran akan dikenakan sanksi tegas berupa denda dan atau pidana kurungan bahkan penutupan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Gubernur Banten Wahidin Halim mengatakan, hotel masih diperbolehkan menerima tamu yang menginap dan restoran boleh tetap dibuka selama menerapkan protokol kesehatan. “Sudah saya buat (surat edaran-red). Ditandatangani oleh saya,” tegas pria yang akrab disapa WH ini saat ditemui di Sistem Pertanian Terpadu (Sitandu) Dinas Pertanian Provinsi Banten, Selasa (29/12).

Keputusan WH itu dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Banten Nomor 556/2479-Dispar/2020 tanggal 29 Desember 2020 tentang Larangan Perayaan Pergantian Tahun Baru 2020-2021 di Banten. Dalam surat edaran yang ditujukan kepada Bupati dan Walikota se Banten itu menyebutkan tiga poin. Pertama, tidak memberikan izin dan melarang melakukan acara/hiburan/kerumunan perayaan pergantian tahun baru 2020-2021 di hotel, restoran, cafe, bar, serta tempat lainnya. Kedua, kegiatan usaha yang dinyatakan boleh melakukan kegiatan (seperti penginapan dan rumah makan) dengan mematuhi protokol kesehatan atau adaptasi kebiasaan baru sesuai peraturan perundang-undangan. Ketiga, masing-masing pemerintah kabupaten/kota bersama TNI Polri dan yang tergabung dalam tim satgas penanganan Covid-19 agar melaksanakan tugas pengawasan dan mencegah terjadi kerumunan yang berpotensi melanggar protokol kesehatan serta menindak tegas sesuai ketentuan. Surat edaran itu juga mempertimbangkan Pergub Banten Nomor 45 Tahun 2020.

Kata WH, sanksi yang diberikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Apalagi hal itu menyangkut pelanggaran protokol kesehatan. “Ada sanksi pidana. Denda ataupun hukuman badan (penjara-red),” terangnya.

WH juga lagi-lagi mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan perayaan pergantian tahun baru. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap di rumah saja dalam rangka meminimalisir penyebaran Covid-19 di Banten.

Terlebih bagi ASN Pemprov Banten, orang nomor satu di Banten ini mengancam akan memberikan skors atau turun pangkat apabila keluar daerah. “Bila perlu saya pecat nanti. Enggak boleh, harus jadi contoh masyarakat. Apalagi di era pandemi ini, karena kebiasaan catatan kita begitu dia pergi keluar dan pulang terpapar,” tandasnya.

Apalagi, lanjut WH, saat ini klastermya bukan lagi perkantoran, tetapi sudah klaster keluarga di Jakarta. “Jadi yang lebih membahayakan lagi. Jadi dia masuk ke rumah tangga itu. Ini yang harus kita lakukan langkah-langkah,” terangnya.

Dengan kondisi rumah sakit rujukan Covid-19 yang terus penuh, WH meminta agar masyarakat patuh terhadap protokol kesehatan. Mantan Anggota DPR RI ini berharap agar masyarakat Banten sehat dan tidak ada yang datang ke rumah sakit.

Hal senada disampaikan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy. Ia mengatakan, Pemprov Banten bukan lagi membuat surat imbauan, tetapi larangan. “Jadi tegas. Bentuknya larangan,” tegasnya.

Ia kemarin telah memanggil Dinas Pariwisata (Dispar) dan Satpol PP terkait imbauan dari pemerintah pusat tentang pengamanan protokol kesehatan pada saat pergantian tahun baru. “Jangan sampai menimbulkan klaster baru. Makanya kita buat surat larangan tegas bahwa tidak boleh melaksanakan event yang menyebabkan kerumunan orang,” ujarnya.

Berdasarkan data Dispar, Andika mengungkapkan okupansi hotel di tempat wisata mencapai 70 persen mulai dari yang harganya low sampai high.

Ketua Harian Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Banten Ashok Kumar memastikan, pengelolaan hotel khusus di pesisir pantai selalu menjaga protokol kesehatan. Pihaknya juga menilai pemerintah memang sudah sepatutnya mengeluarkan semua ketentuan khusus demi kepentingan bersama.

“Kami menahan diri kalau ada kunjungan itu dijaga sesuai 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak-red),” ujarnya. Kata dia, kini para pengelola hotel telah banyak menahan diri dan selalu mengikuti petunjuk dari pemerintah. Hiburan yang biasanya digelar pada malam pergantian tahun seperti tiup terompet dan bakar kembang api dikurangi. Pihaknya hotel juga selalu memberikan pemahaman kepada pengunjung untuk tidak melakukannya.

Namun, kata dia, apabila ada tamu yang nembak kembang api dari jauh pihaknya tidak bisa menahan. Apalagi, tamu yang datang tidak diperiksa juga tas-tasnya. “Tetapi kami sudah melakukan suatu warning. (Pengunjung diminta-red) tidak melakukan hura-hura di malam tersebut untuk menghindari (terjadinya penyebaran Covid-19-red,” tegas Ashok.

Meski begitu, ia mengatakan, PHRI juga berharap pemerintah juga bisa memperhatikan kondisi hotel-hotel dengan kembali menggelar rapat-rapat di hotel. Menurutnya, hal itu dilakukan sebagai salah satu bentuk pemulihan ekonomi. (nna)