Adik Ipar Berbahagia, Istri Nostalgila

0
2.102 views

Pernikahan adik ipar, menjadi hari yang menyayat hati bagi Usman (42), nama samaran. Bagaimana tidak, di saat Usman sibuk membantu keluarga besan menerima tamu undangan, istrinya, sebut saja Minah (41), malah asik bernostalgia bersama mantannya. Astaga.

Pertemuan dengan Usman berlangsung di warung kopi di kawasan Kecamatan Walantaka, Kota Serang, Kamis (9/7). Sepintas, sosok Usman terlihat sederhana dan ramah, bukan rajin menjamah ya. Ia bekerja di salah satu kantor pemasaran property. Diceritakan Usman, bahwa kejadian memilukan itu terjadi lima tahun lalu. Sampai saat ini Usman masih trauma. Kendati Usman sudah memaafkan istrinya yang sudah mengaku khilaf. Sejak kejadian itu, Usman langsung mengajak Minah pindah dari tempat tinggal orangtua istrinya di Kecamatan Cikande ke rumah Usman di Kota Serang. “Kalau saja waktu itu dia enggak mau saya bawa pindah, mungkin udah saya ceraikan,” ujar Usman. Emang apa bedanya? “Saya enggak akan bisa ngelupain kejadian itu,” jawabnya. Iya sih.

Usman mengaku masih mempertahankan rumah tangganya karena sangat menyayangi istrinya, terlebih kedua anaknya yang bisa jadi korban kalau Usman sampai meninggalkan Minah. Usman memang sudah dibuat kecewa oleh Minah. Tapi, bukan berarti Minah tidak bisa berubah dan memperbaiki bahtera rumah tangga. Alasan lain, karena Minah memiliki wajah cantik. Usman sampai masih ingat bagaimana ia berjuang dengan susah payah untuk mendapatkan hati Minah. “Susah dapetinnya, sayang kalau dilepas,” tukasnya. Pentesan.

Pengakuan Usman, istrinya dulu termasuk primadona desa. Minah merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Wajahnya ayu, kulitnya mulus putih dan bersih, tubuhnya juga ideal bak model Catwalk. Tak heran, di kampungnya Minah jadi rebutan para kaum adam. Usman sendiri mengenal Minah di pabrik. Mereka kerja satu perusahaan. Dengan sosok Usman yang juga lumayan ganteng, Minah pun terpesona. “Wih,,,saya juga waktu muda ganteng,” aku Usman. Iya Kang kelihatan kok, bohongnya!.

Keduanya pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak pertemuan itu, mereka mulai berkenalan dan bertukar nomor ponsel untuk melakukan pendekatan. Semakin lama keduanya semakin akrab hingga akhirnya sepakat untuk menjalin asmara. Dua bulan pacaran, Usman langsung mengajak Minah untuk melanjutkan hubungan ke pelaminan. Usman terbilang lelaki gentle, dibuktikan ia tidak hanya sekadar mengobral janji doang layaknya lelaki hidung belang dengan langsung melamar Minah. “Perempuan itu butuh kepastian. Jadi, kalau sudah yakin langsung aja lamar,” kata Usman. Masa sih Bang!

Singkat cerita, mereka menikah. Tentu saja, banyak sekali pria di kampung Minah yang patah hati. Meski begitu, Usman tak pernah menerima ancaman dari siapapun karena sukses menjadi juara mendapatkan hati Minah. “Orangnya baik-baik sih (mantan Minah-red), enggak pernah ada gangguan,” ujarnya. Ya ngapain ganggu, orang bukan jodohnya.

Mengawai rumah tangga, Usman terpaksa sementara tinggal bersama keluarga istri. Soalnya, Minah tidak mau dibawa pergi dan hidup mandiri, meski rumah sudah disiapkan Usman dari tabungannya untuk mereka. Tahun pertama rumah tangga tak ada kendala. Malah, Usman dan Minah semakin dirundung kebahagiaan dengan kehadiran anak pertama laki-laki. “Wah pokoknya bahagia banget saya waktu itu,” ucapnya. Syukur deh.

Sampai suatu waktu, adik perempuan Minah ada yang melamar. Kebahagiaan Minah pun semakin bertambah. Undangan pernikahan adik ipar pun mulai disebar, tenda dipasang, ibu-ibu tetangga mulai mempersiapkan bahan-bahan masakan. Besoknya resepsi dan tamu undangan mulai berdatangan. Usman sendiri bertugas menerima tamu, sementara Minah menemani adiknya di atas pelaminan bergantian dengan sang ibu mertua. Awalnya acara berjalan lancar-lancar saja, dari pagi sampai sore tak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Nah, bada Isya, tamu kembali mulai berdatangan, tetapi Usman tidak melihat istrinya menemani kedua mempelai di atas pelaminan. “Sampai mertua nanya ke saya di mana Minah, suruh gantian tapi enggak ada,” katanya. Mungkin lagi cari angin, angin ribut.

Tentu saja, Usman dan keluarga besan mulai mencari keberadaan Minah. Mulai menyisir dari kamar, di tempat ibu-ibu kumpul juga tidak ada. Sampai akhirnya, Usman iseng mencari Minah ke belakang rumah tempat ibu-ibu masak. Betapa kaget Usman karena melihat istrinya sambil menggendong anak sedang berbincang hangat sambil- tertawa terbahak-bahak dengan pria lain. “Saya langsung panggil, dia kayak kikuk ketakutan gitu,” ujarnya. Terus-terus?

Besoknya Usman menginterogasi Minah. Sampai akhirnya Minah mengakui kalau pria yang berbincang sama dia semalam mantan pacarnya. Tentu saja, pengakuan Minah itu menyulut emosi Usman. Kendati begitu, Usman tidak bisa memarahi Minah karena sayang selain tidak melihat istrinya berbuat yang macam-macam dengan pria itu. Namun begitu, seminggu kemudian Usman mengajak Minah pindah untuk menghindari kejadian serupa. “Gimana enggak emosi, adik ipar lagi berbahagia, istri malah nostalgilaan sama mantannya. Kalau masih tinggal di sana, saya takut istri malah terpengaruh digangguin mantannya,” tandasnya. Takut direbut orang ya istrinya. “Ya gitu deh,” timpalnya. Yassalam. (mg06/zai)