Adu Nyawa di Jalan Raya (1): Kalau Menang Balapan, Joki Kebagian Setengah

Dua remaja memulai balap liar di Jalan Serang-Pandeglang, Cadasari, Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang, Minggu (28/8) dini hari.

Trek-trekan. Istilah yang tak asing di kalangan anak-anak muda. Terutama bagi para penggemar balap liar. Kegiatan itu biasa digelar malam-malam. Selain menjadi ajang adu gengsi kelompok, balap liar juga identik dengan perjudian. Setiap balapan, selalu ada uang taruhan, juga wanita cabe-cabean.

PANDEGLANG – Ini hari Minggu (14/8). Sejumlah anak-anak tanggung tampak masih asyik bergerombol di Jalan Raya Serang-Pandeglang, Kelurahan Kadumerak, Kecamatan Karangtanjung. Padahal, malam sudah hampir pagi. Waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB. Namun, suasana di sekitaran ‘pabrik’ masih hot. Raungan knalpot motor bobokan, terdengar memekakkan telinga.

Ditingkahi sorak-sorai penonton, dua pebalap siap-siap mengambil posisi start. Dua sampai tiga remaja lain, memblokir sejumlah mobil yang akan melintas menuju ke arah Serang.  Setelah kondisi lalu lintas dirasa aman, balapan dimulai.

Dua remaja tanggung dengan kuda besi standar mengawali duel pertama. Keduanya menggeber knalpot dengan tarikan gas sebagai aba-aba untuk memulai adu nyali, tepat di atas zebra cross yang dijadikan garis start. Beberapa remaja lain dengan motornya bertindak mengawasi. Sisanya, hanya menjadi penonton menikmati kecepatan motor yang dipacu dua joki tersebut.

Kegiatan trek-trekan membuat kesal warga. Selain kerap memblokir jalan, suara bising knalpot mengganggu waktu istirahat warga. Apalagi bagi pasangan yang baru punya bayi. Benar-benar mengganggu.

Trek-trekan juga menularkan virus negatif bagi kaum remaja di daerah yang dikenal dengan julukan kota santri tersebut. Virus itu bernama judi dan pergaulan yang menjurus kepada kehidupan seks bebas. Layaknya olahraga balap motor profesional yang dihiasi umbrella girl, kalau balapan liar ada cabe-cabean.

Hasil penelusuran Radar Banten di Pandeglang, para joki rata-rata adalah remaja tanggung. Balapan terbagi dalam berbagai kelas. Mulai dari motor jenis standar sampai motor kelas kakap. Biasanya, yang paling ditunggu-tunggu adalah duel di kelas drag.

Tampilan motor drag jalanan ini seram. Motor dipereteli habis. Hanya menyisakan rangka motor dengan posisi stang menelungkup tanpa dilengkapi starter.  Untuk menyalakan mesin motor harus didorong. Motor juga ‘disulap’, dari 110 cc di-bore up menjadi 300 cc.  Kecepatannya bisa sampai 160 kilometer per jam.

Lalu, berapa uang taruhannya? Untuk kelas motor standar, sekali balapan dimulai dari Rp50 ribu sampai Rp300 ribu. Jika motor drag yang turun, taruhannya lumayan, Rp500 ribu sampai Rp2 juta. Ironis, nyawa manusia cuma dihargai paling top Rp2 juta.

Menelusuri lebih jauh, Radar Banten mencari tahu keberadaan para joki balap liar di kawasan Pandeglang. Pencarian diawali dengan mencari anak-anak motor yang menongkrong di jalanan. Pencarian pada Sabtu malam (27/8) itu, baru dimulai sekira pukul 22.00 WIB, karena sejak sore, kawasan Pandeglang terus diguyur hujan deras.

Setelah hujan reda, pencarian membuahkan hasil. Joki balap liar itu mengaku bernama Herman. Di jalan, Herman dikenal dengan panggilan Chamonk yang malam itu menunggang bebek matik.  Saat ditemui, Chamonk sedang menongkrong bersama rekan-rekannya di tepi jalan. Lokasinya tak jauh dari kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Banten di kawasan yang dikenal dengan sebutan ‘pabrik’ di Kecamatan Karangtanjung.

Awalnya, Chamonk tak mau bercerita banyak. Setelah mendapat penjelasan, Chamonk yang kepalanya masih tertutup helm, akhirnya mau ngoceh. Dikatakan Chamonk, di Pandeglang ada empat lokasi yang jadi arena balap liar. Pertama di daerah Cipacung-Maja, seputar kantor Badiklat Banten, Kecamatan Karangtanjung, kawasan ‘pabrik’ di Jalan Serang-Pandeglang, dan Kampung Sawah, Cadasari-Baros arah Palima.

Para joki biasanya beraksi di atas pukul 12 malam. Selain malam Minggu, para joki balap liar juga beraksi di malam Jumat. Mulai pukul dua dini hari hingga azan subuh. “Kalau menang, setengahnya dikasih ke joki. Sisanya buat senang-senang saja,” kata Chamonk.

Malam itu, Chamonk juga menyarankan agar Radar Banten datang lagi ke lokasi sekira pukul dua pagi. Benar saja, satu per satu joki mulai keluar dari sarangnya. Ada yang naik motor bebek hingga Kawasaki Ninja. Sayangnya, malam itu tidak kelihatan joki motor drag. Jumlah peserta trek-trekan juga tak sebanyak yang diceritakan Chamonk. Mungkin, karena jalanan licin habis hujan.

Saat beraksi, para joki terbilang nekat. Motor tidak dilengkapi dengan lampu. Biasanya, untuk menambah nyali, kebanyakan joki didoping dengan minuman keras. (Nizar S/Radar Banten)