Ahli Gizi di Puskesmas Kota Serang Masih Minim

0
1.373 views

SERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang masih kekurangan tenaga ahli gizi. Dari 16 puskesmas yang ada di Kota Serang, hampir setengahnya belum memiliki tenaga ahli gizi. Hal tersebut terungkap dalam seminar peringatan Hari Gizi Nasional ke-57 di Hotel Le Dian, Sumurpecung, Kota Serang, Kamis (9/2).

Kepala Dinkes Kota Serang Toyalis mengungkapkan, selama 2016 terdapat 2.842 balita di Kota Serang yang mengalami masalah gizi. Hal tersebut disebabkan oleh tidak seimbangnya asupan gizi yang diterima balita. Selain itu, pihaknya masih kekurangan tenaga ahli gizi. “Kalau secara jumlah memang kekurangan jumlah tenaga penyuluh,” ujar Toyalis.

Ia mengungkapkan, dari 16 puskesmas yang belum memiliki tenaga ahli gizi, seperti Puskesmas Curug, Kilasah, Kasemen, dan Sawahluhur. Kemudian di Puskesmas Cipocokjaya dan Banjaragung tenaga ahlinya hanya berstatus magang. “Saat ini, memang untuk mengantisipasi kekurangan tersebut, kalau ditemukan masalah gizi, kami back up sama tenaga lain. Idealnya satu puskesmas ada satu tenaga ahli gizi,” katanya.

Toyalis mengatakan, ada tiga masalah gizi pada balita ditemukan di Kota Serang, yakni gizi buruk sebanyak 86 kasus, stunting atau pendek sebanyak 1.603 kasus, dan obesitas atau kegemukan sebanyak 1.153 kasus. Kata dia, bayi pendek dan kurus atau gizi buruk itu kemungkinan karena kurang asupan gizi, setelah ditimbang dan ukur ternyata ada kelainan. Begitu pun yang kegemukan, gizinya harus diatur agar seimbang. “Masalah gizi memang hingga kini belum bisa dihilangkan secara sepenuhnya. Kami juga terus berupaya agar setiap puskesmas se-Kota Serang memiliki tenaga ahli gizi,” katanya.

Untuk itu, kata dia, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah seperti menyediakan dapur gizi dan tempat khusus penanganan gizi buruk di setiap puskesmas, yakni di Puskesmas Serang Kota dan Kasemen. Selain itu pemberian makanan tambahan (PMT) berupa biskuit dan susu formula. “Untuk mencegah terjadinya masalah gizi pada balita, kami menggencarkan sosialisasi. Selain itu, lakukan pemeriksaan secara rutin, karena dikhawatirkan menderita penyakit lain,” ungkapnya.

Wakil Walikota Serang Sulhi mengatakan, masalah gizi memang terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang luar biasa. Sehingga, pihaknya mengajak masyarakat untuk serius menyelesaikan persoalan tersebut. “Masalah gizi akan berdampak pada rendahnya kualitas SDM, pendidikan, dan persaingan bangsa,” katanya.

Sulhi mengakui, ada beberapa langkah untuk mengantisipasi masalah gizi buruk seperti, menerapkan gerakan hidup sehat, juga perlunya penyuluh atau tenaga ahli gizi yang ditempatkan di masing-masing puskesmas. Ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi dan melakukan pemeriksaan pemenuhan gizi. (Fauzan Dardiri/Radar Banten)