Air Serapan TPAS Cilowong Beri Warga Petaka

TPAS Cilowong
Seorang anak berjalan sambil menyeret sampah berupa botol plastik dan atum untuk kembali dijual di lapak rongsokan di sekitar TPAS Cilowong, Jumat (26/8).

SERANG – Air lindi atau air serapan dari Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, Kelurahan Cilowong, Kecamatan Taktakan, membawa petaka bagi warga Kampung Pasir Gadung, Kelurahan Cilowong, Kota Serang. Sungai yang melintas di sekitar Kampung Pasir Gadung menjadi hitam, sawah gagal panen, serta banyak warga terserang penyakit gatal hingga kusta.

Kondisi itu dibenarkan Ketua RW 06, Kampung Pasir Gadung Wadas, Kelurahan Cilowong, Suwanda pada Jumat (26/8). “Makanya, kita kemarin turun ke jalan menuntut pada pemerintah untuk segera membuat puskesmas pembantu (pustu). Warga juga banyak yang kena penyakit gatal-gatal, terus ada yang kena penyakit kusta,” ujar Suwanda saat ditemui Radar Banten di rumahnya.

“Sungai juga berubah jadi hitam. Kalau enggak percaya, lihat saja langsung. Sawah kami sulit panen, sekali panen berasnya hitam karena limbah sampah. Lebih parah dari raskin. Terus habis mencangkul itu, kena sedikit saja air limbah itu langsung gatal-gatal. Soalnya, banyak keluarga saya saja banyak yang punya sawah di sana mau cuci muka, eh air limbahnya kena tanah sawah itu matanya langsung gatel, langsung bengkak,” terangnya.

Lindi CilowongHal inilah yang menyebabkan TPAS Cilowong sempat diblokir ratusan warga Kelurahan Cilowong, yang kebanyakan dari Kampung Pasir Gadung, dan Kampung Cikoak yang tergabung dalam Barisan Peduli Lingkungan (BPL) Kamis-Jumat (25-26/8) lalu. Namun, kini akses jalan menuju TPAS Cilowong telah dibuka lantaran Wakil Walikota Sulhi mendatangi panggilan warga pada Jumat (26/8). Namun, warga Kelurahan Cilowong harus gigit jari lantaran tuntutannya baru bisa diwujudkan pemerintah pada 2017.

Padahal, masalah ini bukanlah masalah sepele. Pemerintah seharusnya menanggapi serius masalah yang dialami warga dan bertindak cepat. Mengingat ini menyangkut kelangsungan hidup warga Kelurahan Cilowong, terlebih mereka yang tinggal di Kampung Pasir Gadung yang kebanyakan menjadi petani padi.

Suwanda menegaskan, warga sebenarnya menginginkan tuntutannya segera direalisasi. “Pak Wakil Walikota Sulhi bilang, siap merealisasi tuntutan, tapi enggak bisa langsung, nanti 2017. Di sini ada 80 kepala keluarga, semua ekonomi menengah ke bawah, dan kebanyakan tani. Kalau air sungainya masih hitam, kan pasti padinya juga hitam,” keluh Suwanda. (Haris/Radar Banten)