Kondisi air sungai Ciujung yang menghitam dan bau. Nelayan pun mengeluhkan kondisi tersebut.

SERANG – Masyarakat dan nelayan Kampung Tengkurak, Desa Tengkurak, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang keluhkan sungai Ciujung berwarna hitam dan berbau yang diduga buangan limbah dari beberapa perusahaan yang ada di Kabupaten Serang.

Sungai Ciujung ini berwarna hitam. Menimbulkan bau menyengat serupa comberan. Ketika Radar Banten Online mencoba menyentuh air sungai itu, memang tidak seperti air bersih pada umumnya. Bahkan warga pun pernah mengalami gatal-gatal setelah mandi di sungai gelap itu.

Air sungai yang menghitam dan bau pun membuat ikan menghilang. Sebelum sungai tercemar, ikan-ikan sangat banyak sekali ditemukan oleh nelayan seperti ikan lundu, kakap putih, udang dan lainnya. Namun saat ini sebaliknya, ikan sangat susah ditemui lantaran kondisi air yang diduga akibat pencemaran limbah industri.

Siman, Nelayan mengeluhkan air sungai ciujung yang menghitam sejak sebulan lalu. Ia pun tak berani mandi di sungai tersebut karena khawatir badannya gatal-gatal.

Bahkan mencuci baju, piring dan lainnya, warga setempat sudah tidak menggunakan air sungai tersebut. Padahal, sebelumnya warga memanfaatkan aliran air sungai tersebut untuk berbagai macam kebutuhan.

“Dulu mah cari ikan dapat 1 kintal. Sekarang, sudah nggak ada ikannya. Pada mati, ada yang ke laut juga,” terang Siman sambil memotong sebilah papan untuk memperbaiki perahunya, Rabu (9/8).

Yani, warga sekaligus nelayan Tengkurak menyayangkan perusahaan-perusahaan membuang limbah ke sungai Ciujung. Pasalnya, mata pencaharian 200 kepala keluarga ini sebagai nelayan sangat terganggu dan merasa dirugikan karena ikan tidak biaa bertahan hidup di tengah pencemaran sungai.

“Mau mandi aja susah. Apalagi cari ikan. Pengennya sih kaya dulu lagi, jernih dan banyak ikannya. Sejak ada limbah penghasilan mencari ikan juga berkurang, ” terang Yani, Rabu (9/8).

Hal itu dibenarkan oleh Aspari, seorang nelayan Tengkurak. Ia tak mencari ikan, malah bermain catur bersama nelayan lainnya, lantaran ia harus ke laut bila ingin memeroleh ikan.

“Di muara udah nggak ada, mati semua. Kami harus ke laut itu pun paling dapat 5 sampai 10 kg ikan, paling sehari 30 rebu. Nggak kaya dulu bisa dapat 200 sampai 300 rebu sehari. Turunnya berkali lipat, ” ucap Aspari.

Aspari mengatakan sudah memberitahukan keluhan masyarakat pada pemerintah. Bahkan pihak pemerintah pun pernah datang mengunjungi kondisi dan keadaan sungai ciujung yang terkenal pencemaran limbah puluhan tahun lamanya.

“Ini yang paling parah. Musim kemarau gini buangan limbah nggak bisa mengalir ke laut. Kalau hujan biasanya nggak terlalu parah. Kami mah warga kecil, nggak tau yang diomongin pemerintah. Yang jelas kami ingin sungai ciujung bisa dipakak mandi, jernih agar ikan bisa hidup, ” inginnya. (Antom Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).