Airin Evaluasi Keberadaan Posko Check Point

Pengendara motor masih berboncengan melintas di posko check point Gading Serpong tanpa ada pemeriksaan petugas, Selasa (21/4). Foto: Miladi Cemol Ahmad

CIPUTAT—Penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Kota Tangsel belum berjalan efektif. Ada dan tidak ada PSBB, seperti tidak ada bedanya. Masyarakat masih banyak beraktivitas seperti biasa. Di lapangan, sejumlah tempat usaha masih banyak yang buka. Bahkan posko check point yang didirikan tak berfungsi maksimal.

Menanggapi itu, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany mengatakan, penerapan PSBB terus dievaluasi. Demikian juga keberadaan check point agar bisa lebih maksimal. “Check point akan kita tingkatkan, apa tetap 24 jam atau hanya mulai pukul 05.00 WIB sampai 20.00 WIB, akan kita lihat dengan melihat personel yang ada,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (21/4).

Airin menambahkan, check point yang pasti tidak boleh berhenti dan tidak ada jam istirahat. Karena, setiap saat kendaraan terus melintas. Sehingga itu menjadi pekerjaan besar yang harus dikerjakan dan diselesaikan serta dicari solusinya. “Petugas yang ada di posko check point harus bekerja maksimal dengan memeriksa setiap kendaraan yang melintas,” tambahnya.

Selama empat hari pelaksanaan PSBB, lanjut Airin, petugas masih banyak menemukan pelanggaran. Khususnya saat pemeriksaan di check point. Namun, petugas sifatnya masih memberikan teguran. Soal maraknya pelanggaran ini, Pemkot akan mendiskusikan masalah tersebut bersama Kajari, Dandim dan Kapolres. “Apakah akan kita berikan sanksi untuk ke depannya, ini akan kita bahas,” jelasnya.

Walikota dua periode ini menambahkan keberhasilan PSBB juga ditentukan peran satuan gugus tugas di tingkat RT dan RW. Menurut Airin, masyarakat yang tinggal di kompleks perumahan, peran RT dan RW sudah maksimal. Contohnya, tamu yang keluar masuk wajib lapor. Namun, masyarakat yang tinggal di luar komplek perumahan harus ada komunikasi yang masif karena warga pergi datang tak terpantau dengan baik.

Selain itu, portal-portal yang dibuat masyarakat di gang-gang boleh dilakukan untuk keamanan. Tapi  yang terpenting warga yang mau pergi harus izin. “Kalau ada yang melanggar silakan foto dan kasih ke saya. Yang punya prestasi harus diberi apresiasi,  yang melanggar akan kita upload di media sosial agar jera,” tutupnya.

Salah seorang warga Ciputat Winarsi mengaku pesimistis PSBB akan berhasil melihat rendahnya kepatuhan yang terjadi di lapangan. Dia mengaku prihatin bercampur kesal dengan perilaku warga yang tidak menaati ketentuan PSBB. Padahal, PSBB itu bertujuan memutus mata rantai penyebaran covid-19 di masyarakat.

“Makanya, saya sangat setuju kalau sanksi bagi para pelanggar PSBB ditingkatkan menjadi denda atau kurungan, agar mereka (para pelanggar-red) kapok,” pungkas Winarsi. (asp/rbnn)