Akademisi Kritisi Porsi Pemberitaan Pilgub Banten Oleh Media Lokal

0
509 views
Seminar politik yang bertema "Pemberitaan Kampanye Pemilihan Kepala Daerah Banten 2017 pada Media Lokal" di ruang auditorium lantai 3 Untirta, Kamis(12/1).

SERANG – Pakar Kebijakan Publik sekaligus dekan Fisip Untirta Agus Sjafari menyatakan pemberitaan pilkada 2017 di media lokal konvesional yang ada di Banten cenderung mencari titik aman dalam memainkan isu berita pilkada 2017. Sementara informasi di medsos terkait pilkada Banten lebih tajam. Hal ini menjadi perhatian bagi para akademisi dan para pemilik media dalam mengolah informasi terkait pilkada 2017.

“Saya kurang tahu yah, kebijakan redaksi media-media besar di Banten cenderung memainkan isu yang kurang begitu ramai seperti medsos yang ramai dalam menginformasikan soal pilkada, padahal idealnya dalam momen pilgub 2017 ini media lokal harus bisa mengemas pemberitaan yang lebih menarik dan banyak mengenai pilgub Banten,” ucapnya usai menjadi narasumber pada seminar politik yang bertema “Pemberitaan Kampanye Pemilihan Kepala Daerah Banten 2017 pada Media Lokal” di ruang auditorium lantai 3 Untirta, Kamis(12/1).

Agus menjelaskan media-media besar di Banten kalah saing pengemasanya dalam memainkan isu pilkada. Menurutnya masyarakat lebih tertarik dengan pemberitaan pilkada di Jakarta ketimbang berita pilkada di daerah Banten. Karena porsi pemberitaan pilkada di Banten sedikit, akibatnya pemberitaan pilkada di Banten tertutupi oleh informasi pilkada di Jakarta.

“Kemudian media di Banten tidak banyak memberitakan sisi negatifnya. Tapi media lebih banyak mengedepankan sisi positif para calon dan wakil calon gubernur Banten. Adapun sisi negatifnya tapi hanya kira-kira 2 persen, selebihnya berita nya positif dan netral aja terkait memberitakan cagub dan cawagub di Banten,” ujarnya.

Sementara Idi Dimyati, Fisip Untirta Media Watch, mengatakan, idealnya tujuan pemberitaan media adalah kepentingan publik. Namun realitanya media di Banten belum mampu untuk mengemas pemberitaan yang sesuai dengan kebutuhan publik.” Memang sangat sulit diterapkan di lapangan dalam membuat berita. Sebab apa yang menjadi teori dalam jurnalistik, tapi realitanya para insan pers dan pemilik media dalam memberitakan belum mampu ideal. Nah ini lah yang menjadi perhatian kita ke depan agar media-media di wilayah Banten bisa mengedepankan idealismenya sesuai teori jurnalistik yang dipelajari,” ucapnya. (Adef)