Akhir Tahun Rawan Aksi Teror

0
138

JELANG perayaan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, Densus 88 Antiteror melakukan penangkapan terhadap tiga terduga teroris di Jawa Timur. Dalam beberapa tahun belakangan, aksi teror penghujung tahun selalu mengancam. Tahun ini ancaman itu masih ada.

——

Kekalahan ISIS di Suriah ditandai dengan jatuhnya Kota Raqqa yang diklaim sebagai ibukota ISIS ke tangan Pasukan Demokratik Suriah pada Oktober lalu. Rentetan kekalahan ISIS makin panjang dengan hancurnya basis ISIS di Marawi, Filipina, karena gempuran militer Filipina pada waktu yang hampir bersamaan.

Di Indonesia, tersiar kabar tewasnya pentolan ISIS asal Indonesia, Bahrun Naim. Padahal, Bahrun Naim selama ini menjadi sosok yang berpengaruh dalam aksi teror di Indonesia.

Kondisi tersebut bisa jadi memengaruhi kestabilan keamanan di Indonesia. Potensi aksi teror dengan tujuan serangan balasan kelompok teroris di Indonesia meningkat. Densus 88 Antiteror melakukan penangkapan terhadap tiga terduga teroris, yakni Muh Muhidin, Paripung Dani, dan Kiki Rizky.

Karopenmas Divhumas Polri Kombespol M Iqbal menyebut, rangkaian penangkapan itu dilakukan untuk mencegah terjadinya aksi teror. Apalagi, mempertimbangkan aksi teror yang terjadi di sejumlah negara. “Pencegahan agar tidak terjadi aksi teror seperti negara lain,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Komunikasi dan Informasi pada Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto menyatakan, potensi teror di akhir tahun masih terdeteksi. Pihaknya sudah memetakan wilayah mana saja yang dianggap masuk zona merah terorisme. Di antaranya, Banten, Bandung (Jawa Barat), dan sebagian Jawa Tengah.

Pertimbangan zona rawan itu berdasar pada sebaran narapidana (napi) terorisme. Para napi tersebut dianggap berpotensi kembali mengulangi perbuatan atau setidaknya menyebarkan paham radikal kepada orang-orang terdekat. “Kami selalu melakukan pendekatan kepada pihak keluarga (napi terorisme),” kata Wawan, kemarin.

Wawan menjelaskan, teroris pendatang baru (newcomers) paling berpotensi melakukan aksi. Mereka biasanya belajar menyusun skenario teror dari situs di internet. Termasuk membuat bom dan cara-cara melakukan teror. Aksi yang dilakukan umumnya sendirian atau lone wolf. “Sekarang banyak yang seperti itu (aksi lone wolf-red),” ungkapnya.

Terkait sasaran, Wawan menyebut polisi masih menjadi objek serangan teroris. Itu menyusul kepolisian khususnya Densus 88 Antiteror, dianggap sebagai musuh yang selalu menghalangi niat terorisme melakukan aksi. “Karena memang mereka (polisi) yang selama ini menjadi garda terdepan pemberantasan terorisme,” ucapnya. Karena itu, polisi tidak boleh sendirian saat bertugas di lapangan.

Untuk antisipasi, BIN meminta peran serta masyarakat. Setidaknya, komunikasi antara masyarakat, bintara pembina desa (babinsa) serta bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (bhabinkamtibmas) terus dilakukan agar ancaman teror bisa dicegah sejak tingkat akar rumput. “Sistem lapor cepat (bila ada potensi teror-red) juga terus didorong,” ujarnya.

DPR memberi perhatian serius terhadap penangkapan terduga teroris. Anggota Komisi III DPR Dossy Iskandar Prasetyo mengapresiasi kerja polisi yang telah melakukan deteksi dini terhadap rencana aksi terorisme. “Aksi teror selalu mengambil momentum,” terang dia, kemarin.

Namun, kata dia, penangkapan tiga terduga teroris tidaklah cukup. Menurut dia, polisi harus melakukan pemetaan menyeluruh terhadap ancaman bahaya teroris. Khususnya menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Tidak hanya di Jatim, tapi juga di wilayah lain. Polisi harus lebih bekerja keras melaksanakan tugasnya dalam mengantisipasi aksi teror.

Dalam melaksanakan tugasnya, lanjutnya, polisi harus berhati-hati. Penanggulangan terorisme merupakan penegakan hukum sehingga harus mengikuti prinsip penegakan hukum yang berlaku. Misalnya, terkait hak terduga teroris. Terduga pelaku masih mempunyai hak yang harus dipenuhi. “Polisi tidak boleh abai dengan hak terduga,” terang politikus Partai Hanura itu.

Yang paling penting, tutur Dossy, polisi jangan sampai salah tangkap. Polisi harus mempunyai bukti yang kuat terkait dugaan keterlibatan orang yang akan ditangkap. Wakil Ketua Baleg DPR itu yakin, aparat mempunyai informasi yang akurat dan terukur dalam melakukan penangkapan. (JPG/RBG)