Akses Dua Kecamatan di Lebak Lumpuh

Petugas kepolisian melihat kondisi oprit Leuwijaksi yang ambrol. Jembatan itu menghubungan Kecamatan Cimarga dan Cikulur, Kabupaten Lebak.

CIMARGA – Akses jalan menuju jembatan atau biasa disebut oprit Leuwijaksi yang menghubungkan Kecamatan Cimarga dan Cikulur ambrol pada Rabu (26/12) sekira pukul 05.00 WIB. Akibat kejadian tersebut, akses transportasi masyarakat terputus sehingga masyarakat harus berputar beberapa kilometer jika ingin ke Cikulur atau sebaliknya.

Informasi yang dihimpun Radar Banten, Jembatan Leuwijaksi yang melintas di atas Sungai Ciujung dibangun dengan menggunakan dana bantuan keuangan (Bankeu) Provinsi Banten sebesar Rp4,7 miliar pada 2017. Baru setahun dibangun, jembatan yang menghubungkan Kampung Leuwijaksi, Desa Margatirta, Kecamatan Cimarga, dan Kampung Jambubol, Desa Muaradua, Kecamatan Cikulur, tidak bisa dilalui. Saat kejadian, hujan deras mengguyur wilayah Cimarga dan sekitarnya sehingga membuat debit air sungai meluap.

Mobil pikap yang dikemudikan Andi, warga Margatirta yang melintas di jalan yang menjadi akses menuju jembatan terjatuh ke bantaran sungai. Sementara itu, tembok penahan tanah (TPT) berserakan dan sebagian terbawa arus Sungai Ciujung.

Kepala Desa Margatirta Mahpudin mengatakan, ambrolnya oprit dan tembok penahan tanah (TPT) Jembatan Leuwijaksi diduga akibat cuaca buruk. Debit air sungai naik sehingga menyebabkan TPT dan oprit jembatan yang dibangun tahun lalu tersebut ambrol. Untuk itu, dia meminta kepada Pemkab Lebak atau Pemprov Banten segera menangani Jembatan Leuwijaksi tersebut.

“Saya prihatin dengan kejadian ini. Semoga, pemerintah segera membangun kembali oprit dan TPT jembatan yang ambrol,” kata Mahpudin kepada wartawan di lokasi kejadian, kemarin.

Akibat kejadian tersebut, akses masyarakat dua kecamatan terganggu karena jembatan hanya bisa dilalui pejalan kaki. Padahal, jembatan itu menjadi akses utama masyarakat, khususnya pengendara roda empat yang akan bepergian keluar daerah. “Sekarang, masyarakat harus berputar lebih dari lima kilometer ketika akan ke Cikulur dan sebaliknya,” ungkapnya.

Masyarakat di Margatirta, lanjutnya, diimbau untuk berhati-hati ketika melintasi Jembatan Leuwijaksi. Jika kondisi cuaca terus buruk, dia khawatir TPT yang masih berdiri sekarang dan dilalui masyarakat akan kembali ambrol.

“Saya sarankan masyarakat tidak melintasi jembatan ini. Kalau oprit dan TPT jembatan sudah ditangani, kita baru gunakan lagi. Ini demi keselamatan bersama,” ujarnya.

Kapolsek Cimarga AKP Ahmad Rifai menyatakan, masyarakat dilarang melintasi jembatan untuk sementara waktu. Dia khawatir, kondisi jembatan dapat membahayakan keselamatan masyarakat. Apalagi, sekarang sudah memasuki musim penghujan dan debit air Ciujung mengalami kenaikan.

“Kita langsung pasang garis polisi di lokasi kejadian. Kita minta masyarakat tidak melintasi jembatan tersebut karena membahayakan,” paparnya.

Dia menduga, konstruksi TPT dan oprit jembatan kurang berkualitas. Kondisi tersebut terlihat dari tanah urukan yang menggunakan tanah merah, bukan tanah berbatu.

“Penyebab ambrolnya oprit jembatan diduga akibat pengerjaannya tidak sesuai bestek,” tegasnya.

Bupati Iti Octavia Jayabaya bersama kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan para asisten daerah (asda) langsung meninjau Jembatan Leuwijaksi. Iti memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk melakukan kajian mengenai kondisi tanah dan konstruksi jembatan. “Kita akan tangani segera dengan menggunakan anggaran bantuan tidak terduga (BTT) atau dialokasikan di APBD Perubahan 2019,” katanya. (Mastur/RBG)