Mulyadi di kantor Desa Panimbangjaya.

Aksi heroik dilakukan Mulyadi, Kades Panimbang Jaya, Kabupaten Pandeglang, patut diacungi jempol. Berbekal seni bela diri silat yang dimiliki, ia mengejar pelaku penusuk santri.

SUASANA mencekam pada Minggu (8/4) dini hari di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Bani Ustman, Kampung Pasar, Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, tepatnya di ruas Jalan Pasar-Kebon. Terjadi tragedi penusukan terhadap Hanafi (20) dan Fazri (20), santri pria di ponpes tersebut. Pelakunya, seorang pengendara sepeda motor matik berwarna putih bernama Fuad. Pria tersebut merupakan warga pendatang asal Makassar yang baru tinggal di Desa Panimbangjaya tak kurang dari sebulan.

Penangkapan pelaku yang berbadan kekar itu tak luput dari peran Mulyadi yang mampu melumpuhkan dengan tangan kosong. Ketika itu, pelaku telah menancapkan badik ke dada kiri Hanafi. Kemudian, dengan membabi buta pelaku juga menusukkan kembali badik yang dipegang ke pergelangan tangan bagian kanan Fazri yang hendak melerai.

Ditemui di kantornya, pria berputra satu itu menceritakan, saat malam peristiwa berdarah itu, dirinya sedang berada di kediamannya yang tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP). Mendengar keributan akibat aksi penusukan di lingkungan ponpes, dirinya bergegas mendatangi dengan menggunakan mobil Honda Brio. Tujuannya, untuk melerai agar tidak ada kegaduhan di lingkungan ponpes.

Setiba di TKP, tampak satu orang santri tergeletak dengan dada berlumuran darah. Di TKP, Mulyadi mengetahui penusukan dilakukan lantaran pelaku tersulut emosi karena tidak senang mendengar sorakan para santri saat motornya melintas dengan bising.

Pelaku yang tengah berada di kerumunan warga dan sempat melarikan diri itu dapat ditangkap oleh Mulyadi yang juga merupakan mantan ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kecamatan Sukaresmi tersebut dengan keberanian bermodalkan seni pencak silat TTKKDH. Pelaku sempat melakukan perlawanan, tetapi tak berdaya. Itu lantaran pelaku lebih dahulu mendapat tendangan dari Mulyadi hingga tersungkur.    “Akhirnya saya pegang kedua tangannya si pelaku itu dan saya masukkan ke mobil saya dengan ditemani warga. Selanjutnya, saya serahkan ke Mapolsek Panimbang untuk diamankan,” terang Mulyadi, dengan sikap ramah sambil mempersilakan minum di ruang kerjanya, Kamis (12/4).

Mulyadi memastikan, sebelum terjadi peristiwa penusukan, kedua santri itu tak pernah melakukan keributan di lingkungan Desa Panimbangjaya. Sebab, warga Panimbangjaya rata-rata merupakan pedagang dan nelayan yang setiap hari sibuk mencari nafkah. Ditambah dengan adanya lingkungan pesantren yang sudah puluhan tahun banyak menjebolkan para tokoh ulama.

Atas kejadian itu, Mulyadi meminta kepada seluruh masyarakat Desa Panimbangjaya untuk melaporkan ke ketua RT apabila terdapat warga pendatang baru. “Kemudian para RT juga harus waspada dan segera meminta keterangan warga apabila ada warga baru. Khawatir peristiwa itu terjadi kembali,” kata pria lulusan SMAN 9 Teluklada tahun 2002 itu menutup pembicaraan. (HERMAN SAPUTRA)