SERANG – Ketua Sementara DPRD Banten Andra Soni menyayangkan terjadinya aksi kekerasan terhadap aktivis mahasiswa, yang dilakukan oleh oknum petugas pengamanan dalam (pamdal) DPRD Banten, saat pelantikan anggota dewan periode 2019-2024.

Menurut Andra, pihaknya akan segera mengevaluasi tugas, pokok dan fungsi pamdal serta standar operasional prosedur (SOP) pengamanan di Dewan.

“Saya ikut prihatin atas kejadian itu, karena peristiwanya di dalam gedung wakil rakyat. Secepatnya akan dievaluasi (pamdal),” kata Andra kepada Radar Banten, Rabu (4/9).

Andra melanjutkan, dirinya juga segera memanggil Sekretaris DPRD Banten, untuk menindaklanjuti kasus tersebut. “Sore ini juga saya akan bicara langsung dengan Pak Sekwan (Deni Hermawan), kejadian ini harus direspons dengan cepat,” tegasnya.

Politisi Gerindra ini juga menambahkan, dirinya akan memfasilitasi langsung pertemuan dengan Keluarga Besar Kumala (Kumala) untuk mencari solusi bersama. “Saya siap memfasilitasi pertemuan Keluarga Besar Kumala dengan Setwan dan Pamdal DPRD Banten. Semoga kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” ungkapnya.

Terkait proses hukum yang ditempuh Kumala, Andra mengaku sangat menghormatinya.

“Proses hukum yang sudah berjalan kita hormati, tapi saya berharap bisa diselesaikan secara musyawarah,” paparnya.

Sebelumnya, aktivis Kumala Ahmad Jayani menjadi korban kekerasan petugas Pamdal DPRD Banten, saat menerobos masuk ruang paripurna saat pelantikan anggota DPRD Banten periode 2019-2024 pada Senin (2/9).

Jayani sempat melemparkan selebaran kertas dari lantai 2 ruang paripurna. Akibat aksinya itu, ia mendapatkan sejumlah tindakan kekerasan dari oknum pamdal saat mengamankannya dari ruang paripurna.

Tak terima dengan aksi kekerasan yang dialami Jayani, pengurus Kumala kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polda Banten. (Deni S)