Aktivitas Tambang Pasir PT Mata Dikeluhkan Warga Banjarsari

Sejumlah warga Kampung Manggu, Desa Tamansari, Kecamatan Banjarsari mendatangi area tambang pasir milik PT Mata, Senin (2/4). DOK: Warga For Radar Banten

BANJARSARI – Masyarakat Kampung Manggu, Desa Tamansari, Kecamatan Banjarsari, mengeluhkan aktivitas pertambangan pasir milik PT Mas Arya Tunggal Abadi (Mata). Mereka menuntut pihak perusahaan memberikan ganti rugi terhadap masyarakat yang lahannya terdampak limbah tambang pasir.

Iwan Sutardi, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Tamansari, Kecamatan Banjarsari mengatakan, selama ini aktivitas penambangan pasir di Kampung Manggu, Blok Geyon, telah meresahkan masyarakat. Apalagi, akses jalan yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan pengangkut pasir menggunakan lahan masyarakat. Ditambah lagi, limbah dari tambang pasir masuk ke areal pesawahan dan tanah masyarakat. “Masyarakat menuntut kompensasi terhadap perusahaan tambang pasir,” kata Iwan Sutardi kepada wartawan, kemarin.

Menurutnya, masyarakat Kampung Manggu juga khawatir dengan kegiatan tambang pasir di wilayah tersebut. Pengusaha menggali pasir di Blok Geyon dan tidak pernah menutup kembali areal tambang tersebut. Kondisi tersebut membuat para orangtua khawatir, ketika anak-anaknya bermain di bekas areal tambang. “Wilayah kami hancur, karena areal pertambangan yang telah digali tidak pernah diuruk lagi. Kondisi tersebut membahayakan keselamatan masyarakat. Saya berharap, ada solusi terbaik yang bisa ditempuh perusahaan dan masyarakat di sini,” ungkapnya.

Camat Banjarsari Dedi Supratnawijaya menyatakan, belum mengetahui adanya aksi warga Tamansari yang mendatangi lokasi tambang pasir PT Mata. Ia mengklaim, dirinya seharian melakukan rapat dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) di Rangkasbitung. “Saya seharian rapat di BPN dan belum menerima laporan dari Kasi Trantib Pak Elan,” terangnya.

Mantan kepala Satpol PP Lebak ini mengatakan, sebagian besar tambang pasir di Banjarsari tidak memiliki izin operasional. Untuk itu, pihak kecamatan berencana akan mengumpulkan pengusaha tambang pasir di wilayahnya tersebut. Para pengusaha bakal diberikan pemahaman agar mau mengurus izin usaha pertambangan kepada Dinas Perizinan di Provinsi Banten. “Saya sudah rencanakan untuk mengumpulkan pengusaha tambang pasir. Saya ingin, usaha mereka legal dan tidak merugikan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, pemilik tambang pasir PT Mata Bayu mengatakan, akan memberikan kompensasi kepada masyarakat yang lahannya digunakan untuk jalan. Untuk warga yang sawahnya terdampak limbah tambang pasir juga bakal diberikan kompensasi.

Namun, Bayu meminta kepada masyarakat menunjukkan SPPT sebagai bukti kepemilikan lahan tersebut. “Lahan tambang pasir merupakan peralihan dari pengusaha sebelumnya Pak Asep. Izinnya sudah ada dan saya akan minta ke Pak Asep. Tapi sekarang yang bersangkutan sedang ada di luar kota,” kilahnya. (Mastur/RBG)