Berasal dari keluarga tak mampu, Itoh (41) nama samaran tumbuh menjadi wanita pekerja keras. Dipandang sebelah mata, tak membuatnya menyerah pada keadaan. Kisah perpisahannya dengan suami, sebut saja Kacrut (45), menjadi awal penderitaan hidup yang harus dijalani.

Seperti diceritakan Itoh, saat itu usianya 24 tahun dan Kacrut 28 tahun. Itoh yang terlahir di salah satu kampung di Kabupaten Tangerang, menjadi perempuan yang selalu tampak ceria meski hidupnya penuh derita. Duh, kok kesannya sedih begini sih Teh?

“Ya begitulah hidup saya, Kang. Mungkin orang lain lihatnya saya senang karena senyum dan ketawa terus, tapi sebenarnya mah pedih,” curhat Itoh kepada Radar Banten.

Singkat cerita, entah karena faktor usia menginjak masa dewasa atau karena tak sanggup membiayai hidup Itoh, kedua orangtua berniat menjodohkan dengan lelaki pilihan yang mapan. Apalah daya, sejak kecil memang tak pernah punya kesempatan memilih, ia pun menurut tanpa ada sanggahan.

Sang lelaki tak lain adalah Kacrut. Berperawakan tinggi dengan tubuh ideal, ia banyak menebar senyum pada Itoh dan keluarga. Pertemuan pertama yang berlangsung khidmat di rumah sang wanita, menjadi silaturahmi sekaligus ditentukannya tanggal pernikahan.

Singkat cerita, dengan pesta sederhana dan hanya mengundang tetangga serta sanak saudara, Itoh dan Kacrut pun duduk di pelaminan. Mengikat janji sehidup semati, keduanya resmi menjadi sepasang suami istri. Ciyee, wah pasti bahagia banget ya Teh waktu itu.

“Ya saya akui saat itu saya memang menaruh harapan besar ke Kang Kacrut. Dengan menjadi istrinya, saya berharap bisa ningkatin kualitas hidup dan angkat nama keluarga,” ungkap Itoh.

Di awal pernikahan, mereka tinggal di rumah keluarga sang wanita. Baik Itoh maupun Kacrut sama-sama saling menjaga perasaan satu sama lain. Bersikap lembut di hadapan keluarga, mereka pasangan baru yang harmonis. Kacrut yang bekerja bersama pamannya menjadi pekerja di pabrik sepatu, melaksanakan tugas sebagai suami dengan baik.

Hebatnya, meski hidup masih kekurangan, seolah ingin segera menambah kebahagiaan kedua keluarga, baru beberapa bulan pasca pernikahan, Itoh sudah dikabarkan mengandung, hingga akhirnya lahirlah sang buah hati tercinta.

Dua tahun lebih berumah tangga, banyak suka duka yang datang menerpa. Dengan anak yang mulai tumbuh balita, Kacrut dan Itoh berjuang bersama mendidik serta memberi kehidupan indah bagi malaikat kecilnya. Dengan keterbatasan yang ada, mereka bisa tinggal di rumah kontrakan sederhana hasil jerih payah sang suami.

Seiring berjalannya waktu, sikap dan karakter keduanya mulai tampak terasa. Hingga saat diwawancara Itoh mengaku, ia juga bukan perempuan sempurna, di setiap tindakannya pasti ada salahnya, tapi meski begitu, ia tak pernah sekalipun membentak dan bersikap kasar. Tak disangka, ia berbicara seperti itu lantaran menyindir Kacrut. Ya ampun, memang Kang Kacrut kasar gimana Teh?

“Mungkin ini akibatnya kalau enggak cari tahu karakter dan sikap lelaki sebelum menikah. Enggak tahu kenapa, sejak dua tahun pernikahan, dia sering main tangan, terus membentak juga,” curhat Itoh mengingat masa lalu.

Sampai suatu malam, sang suami yang baru pulang bekerja tak terima ketika di dapur tak ada makanan. Lagi-lagi, bagai tak dihargai, amukan sang suami menjadi momok menakutkan bagi Itoh. Apalah daya, keesokan paginya, tubuh memar dan mata sembap, menjadi bukti perilaku Kacrut kepada sang istri. Ya ampun, kasar amat ya Teh.

“Ya waktu itu saya sudah SMS ke dia kalau beli makan di luar saja, soalnya saya kehabisan bahan masakan. Tapi ternyata ponsel dia mati, ya sudah deh ngamuk,” tutur Itoh.

Sampai akhirnya, Itoh memberanikan diri bercerita tentang rumah tangga kepada orangtua dan keluarga. Tak terima akan perilaku Kacrut, sang paman ikut mengamuk. Beruntung tidak sampai terjadi keributan. Namun setelah musyawarah, Itoh pun diminta bercerai. Keduanya pun berpisah untuk selamanya.

Cerita tak selesai sampai di situ. Berakhirnya rumah tangga bersama Kacrut, tak membuat derita itu hilang begitu saja. Menyandang status sebagai janda, membuat hidup Itoh semakin menantang. Mencari nafkah untuk anaknya, ia sempat bekerja sebagai karyawan di toko waralaba.

“Yang namanya dilecehin dan dihina orang tuh saya mah sudah biasa. Mau gimana lagi, namanya takdir ya harus saya jalani,” tukas Itoh.

Hingga suatu hari, dengan penampilan dan bentuk tubuh nan menawan, Itoh sukses menarik hati seorang perjaka. Meski awalnya sempat ragu berkata jujur tentang status jandanya, tetapi berkat dorongan teman-teman, ia pun memberanikan diri bercerita. Hebatnya, bagai mendapat anugerah, sang pria yang sudah kepalang menyatakan rasa, menerima Itoh apa adanya.

Sejak saat itu, hari-hari Itoh menjadi berwarna. Pesan singkat dan ucapan mesra melalui ponselnya, menjadi alasan banyaknya senyum tercipta. Bagai remaja dimabuk cinta, Itoh sering mesem-mesem sendiri setiap malam. Tak ayal, mungkin inilah yang dinamakan keajaiban cinta, ia berhasil menjalani tes wawancara dan diterima bekerja di perusahaan yang tak jauh dari rumahnya.

Hingga tiga bulan berlalu, hubungannya dengan sang pria semakin mengerucut indah. Soalnya, dengan penuh kata mesra, Itoh diajak menikah. Terang saja, tanpa basa-basi, ia yang memang merindukan sosok lelaki di hidupnya, langsung menyatakan bersedia.

Diceritakanlah rencana pernikahan itu kepada seluruh keluarga. Semua bergembira menyambut kabar baik itu. Hingga suatu malam, ponselnya berdering, sang lelaki pujaan hati membuka obrolan dengan kata maaf. Dari nada suaranya, tampak ada sesuatu yaang berat untuk dikatakan. Aih, terus kenapa Teh?

“Dia bilang keluarganya enggak setuju nikah sama saya yang janda. Sejak saat itu, kita enggak pernah kontakan lagi, sekalinya ketemu, dia menghindar,” kata Itoh.

Ya ampun, sabar ya Teh Itoh. Semoga segera dipertemukan dengan jodohnya lagi. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)