Alasan Istri Gemuk padahal Tergoda Janda Kaya

Kisah rumah tangga Nengsih (39), nama samaran, cukup menggelikan. Pemilik usaha warung kecil-kecilan di Kecamatan Padarincang itu harus meratapi nasibnya ditinggal sang suami, sebut saja Urip (41), setelah delapan tahun berumah tangga hanya gara-gara tubuhnya tak lagi ideal alias gemuk. Yassalam.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, siang itu Nengsih sedang sibuk merapikan dagangannya. Wajahnya terlihat murung hingga tak menyadari kedatangan wartawan. Dengan kain batik dan kaus cokelat yang melekat di tubuhnya, Nengsih menyapa dengan ramah. Sekilas melihat sosok Nengsih dengan tubuhnya yang semok cukup menggoda. Tak lama berkenalan, Nengsih pun berkenan menceritakan kisah rumah tangganya.

Perkenalannya dengan Urip cukup lama sebelum menjalin hubungan rumah tangga. Keduanya masih remaja. Urip merupakan teman sekampung Nengsih yang sering kumpul dan makan bareng kawan-kawan lainnya. “Mas Urip tuh orangnya sok-sok romantis. Dulu kalau kita makan bareng, saya bawa lauknya, Mas Urip suka bawa nasinya, teman lainnya bawa sambal. Kita suka makan suap-suapan,” kenang Nengsih. Ih, so sweet.

Dulu tubuh Nengsih aduhai lah. Pokoknya seksi, bisa membuat lelaki mata keranjang jelalatan. Urip pun demikian, Urip termasuk pria macho. Bukan mantan copet ya, tapi benar-benar laki. Meskipun wajahnya tidak begitu tampan, tubuh Urip ideal, kalem, sikapnya juga lembut dan perhatian terhadap perempuan.

“Kalemnya sama cewek doang. Kalau sama teman-teman cowoknya sih dia petakilan (tukang guyon-red) gitu,” ujarnya. Itu namanya lelaki gombal, Mbak.

Seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya semakin dekat, tidak pacaran, bisa dibilang TTM-lah, alias teman tapi mesum, eh mesra. Hubungan mereka semakin akrab saat menghadiri pesta pernikahan teman keduanya. Kedatangan Nengsih dan Urip menjadi bahan ledekan kedua mempelai yang menyinggung-nyinggung agar mereka berdua jadian. Berkat ledekan itu pula, Nengsih dan Urip atas dasar suka sama suka dari sejak mengawali pertemanan, akhirnya sepakat untuk menjalin asmara.

“Pulang dari acara itu, Mas Urip nembak saya dan langsung mengajak menikah,” aku Nengsih. Gercep amat sih Mbak, sudah enggak tahan ya!

Singkat cerita, tiga bulan menjalani masa pacaran, Urip yang masih berstatus pengangguran nekat melamar Nengsih. Tak tahan kali ya. Modal nikahnya hanya lahan sawah dua petak warisan sang ayah. Nengsih yang memang ngebet ingin dinikahi menerima lamaran Urip. Tak sampai sebulan pasca lamaran, mereka menuju pelaminan. Keduanya hanya menggelar pernikahan secara sederhana di rumah mempelai wanita tentunya.

“Waktu itu cuma makan-makan bareng saudara saja. Enggak ada dana buat pesta,” curhat Nengsih. Enggak apa-apa Mbak, yang penting maknanya sama.

Menjalani rumah tangga, keduanya untuk sementara tinggal bersama keluarga Nengsih. Awal-awal pernikahan rumah tangga mereka cukup harmonis. Bahkan Nengsih mengaku selalu terpuaskan dalam urusan ranjang. “Mas Urip hampir setiap malam selalu minta jatah begituan,” akunya. Widih, Ngeronda terus dong tiap malem.

“Apalagi dulu badan saya kan masih seksi, gerakannya lebih lincah. Mas Uripnya juga perkasa,” curhatnya. Hajar, hajar bleh.

Setahun pernikahan, keduanya dikarunia anak pertama yang membuat hubungan rumah tangga mereka semakin mesra. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, keduanya sepakat membuka usaha warung kecil-kecilan. “Pokoknya awal-awal menikah mah, ada atau enggak ada uang, bawaannya indah saja,” akunya. Nanti menjeritnya kalau sudah kelaparan, Mbak.

Prahara rumah tangga datang ketika pasca kelahiran. Seperti yang dialami wanita yang baru melahirkan pada umumnya, bobot tubuh Nengsih bertambah, lekukan di pinggang mulai hilang, pipi mulai chubby, bagian tubuh lainnya juga mulai mengembang, membuat suami selalu mengerutkan dahi setiap mau berhubungan intim. Nengsih sendiri tak bisa menahan godaan makanan pasca melahirkan. Mungkin pengaruh menyusui.

“Ibu saya lebih perhatian pas melahirkan. Segala macam makanan disediakan buat saya, dari buah-buahan, sampai daging-dagingan. Katanya sih biar susunya bagus dan cucunya sehat,” ujarnya. Yang ada penyakit bertambah, Mbak.

Semakin hari berat badan Nengsih tak terkontrol. Urip mulai mengeluhkan kondisi tubuh sang istri itu. Awalnya, Nengsih tak terlalu menanggapi keluhan Urip. Sampai akhirnya, Nengsih tersadar saat Urip sudah jarang meminta berhubungan intim. “Aneh saja. Biasanya Mas Urip yang selalu minta duluan, waktu itu kayak malas-malasan gitu. Apa memang karena badan saya gemuk,” keluhnya. Mungkin saja, takut ditindih kali Mbak.

Situasi diperparah dengan kondisi ekonomi rumah tangga Nengsih dan Urip yang mulai pailit. Sejak itu benih-benih keretakan rumah tangga muncul. Setiap hari ada saja yang diributkan keduanya. Suatu ketika, Urip diajak bekerja menggarap lahan sawah juragan beras di kampungnya yang sudah berusia senja tetapi beristri tiga. Salah satu istri juragan beras itu masih muda, seusia Nengsih. Urip yang bekerja penuh semangat secara perlahan mampu meningkatkan ekonomi rumah tangganya. Namun, peningkatan ekonomi yang dialami Urip malah menjadi petaka bagi Nengsih. Keduanya sudah tidak lagi harmonis. Urip kerap menyindir bentuk tubuh Nengsih yang mulai gemuk. “Saya baru ngeh pas dia ngomong malas begituan. Alasannya badan saya enggak langsing kayak dulu,” curhatnya. Ah alasan itu Mbak

Setahun bekerja, pemilik sawah tempat Urip bekerja meninggal dunia. Seluruh hartanya dibagi-bagi ke tiga istrinya. Keluarga dari rumah juragan beras itu pun mengadakan tahlilan. Sejak bosnya meninggal, Urip lebih banyak menghabiskan waktu di rumah almarhum bersama istri-istrinya. Sejak itu, Urip sering berinteraksi dengan istri almurhum bosnya. Pintarnya Urip, dia kerap mengajak berinteraksi dengan istri almarhum bosnya yang paling muda hingga terjalin chemistry di antara keduanya dan menjalin hubungan terlarang. Perselingkuhan Urip ditandai sikapnya kepada Nengsih yang mulai cuek dan jarang pulang.

“Pokoknya, ada yang aneh pas bosnya meninggal. Dia jarang pulang, enggak mau diajak berhubungan. Sudah tanda-tanda tuh,” sesalnya. Namanya juga laki-laki, Mbak.

Sampai akhirnya, Urip meminta cerai. Nengsih sempat menolak dan tidak terima diceraikan tanpa alasan sampai terjadi keributan hebat. Sayangnya, penolakan Nengsih sia-sia, Urip tetap dengan niatnya berpisah lantaran tergoda janda muda. Tak butuh lama bagi Urip dengan majikan mudanya itu melangsungkan pernikahan, hanya selang satu bulan pascaperceraian. Urip hidup bahagia dengan istri barunya dengan harta berlimpah. Nengsih kini masih sendiri dan sibuk dengan usaha warungnya.

“Ya aku mah terima saja nasib. Meskipun sakit hati, aku tetap mendoakan Mas Urip bahagia,” ucapnya.

Subhanallah. Semoga Mbak Nengsih diberi jodoh yang jauh lebih baik dari Mas Urip. Amin. (mg06/zai/ira)