ilustrasi tsunami (foto: istimewa)

CILEGON – Alat deteksi dini terjadinya bencana seperti sirine terjadinya tsunami yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Cilegon belum memadai. Hal itu terkuak usai berlangsungnya acara focus group discussion (FGD) tentang urgensi analisis risiko tsunami yang berlangsung di Aula Bappeda Kota Cilegon, Rabu (14/2).

“Kita punya dua, tapi sudah rusak dan perlu di setup ulang. Satu titik berada di Ciwandan, dekat SMPN 9 dan satu titik lainnya berada di Grogol, depan Kantor Imigrasi,” ujar Kepala BPBD Kota Cilegon, Rasmi Widyani.

Saat ini, sambung Rasmi, untuk alat deteksi dini tersebut Pemkot Cilegon bergantung kepada industri-industri yang ada. “Diupayakan terintegrasi dengan industri. Kalau ada kejadian kita juga akan menyuarakannya ke radio-radio agar masyarakat mengetahui,” tuturnya.

FGD yang berlangsung membahas mengenai ARDEX (Asean Regional Disaster Emergency Response Simulation Exercise). Untuk critical infrastructure dalam menunjang zonasi kebencanaan di kawasan industri dan perkotaan.

Sekretaris Daerah Kota Cilegon, Sari Suryati mengatakan kegiatan ARDEX akan dilaksanakan pada tahun 2018 ini. Waktu tepatnya belum ditentukan. “Ini merupakan langkah positif dalam menciptakan Kota Cilegon yang memiliki kesiapan serta ketangguhan dalam menghadapi bencana,” ucapnya.

Sari menjelaskan Kota Cilegon merupakan sebuah kota yang berada di ujung Barat laut Pulau Jawa, ditepi Selat Sunda. Jadi wajar jika memiliki tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi.

“Kota Cilegon juga merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, yang didominasi oleh pertumbuhan industri berat dan petrokimia yang cukup pesat, untuk itu perlu penanganan khusus jika terjadi bencana,” katanya. (Riko Budi Santoso/rikosabita@gmail.com)

BAGIKAN