Alat Pemantau Kualitas Udara di Cilegon Masih Kurang

0
216 views

CILEGON – Kota Cilegon hingga saat ini masih kekurangan alat pemantau kualitas udara (ISPU portabel). Dari delapan lokasi rawan pencemaran udara, baru empat yang telah dipasangi alat pemantau.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon Ujang Iing menjelaskan, empat lokasi rawan polusi udara yang belum terpasang alat pemantau udara, yaitu di Suralaya, Pelabuhan Merak, kawasan Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC I) dan Kawasan KIEC II.

“Yang sudah terpasang ISPU di simpang Pondok Cilegon Indah (PCI), simpang Landmark, Kelurahan Gerem atau depan PT Dover Chemical, dan di sekitar Kawasan Industri Ciwandan,” kata Ujang Iing, Minggu (15/9).

Dijelaskan Iing, industri tidak menjadi satu-satunya faktor pencemaran udara di Kota Cilegon, tapi juga padatnya aktivitas kendaraan bermotor di suatu wilayah. Asap yang diproduksi oleh mesin-mesin kendaraan bisa memengaruhi kualitas udara.

Melalui alat pemantau kualitas udara, dapat diketahui seberapa besar kandungan partikulat (PM 10), sulfur dioksida, senyawa gas karbon, dan nitrogen.

Pada alat ukur telah diatur secara sistem untuk bisa menunjukkan kondisi udara di titik rawan polusi. “Kalau kualitas udaranya buruk, sudah enggak sehat untuk warga, nanti alatnya menyala merah. Kalau masih normal warna hijau,” papar Iing.

Dengan alat itu, warga bisa mengetahui secara langsung kondisi kualitas udara karena alat itu menampilkan secara langsung grafik kandungan udara. Selain itu, Pemkot Cilegon pun bisa memantaunya melalui server yang ada di Kantor DLH Cilegon.

Untuk pengadaan ISPU portabel, pada tahun ini dianggarkan Rp450 juta. Sementara, untuk ISPU yang dipasang di simpang PCI dianggarkan Rp1,5 miliar. Keduanya bersumber dari APBD Kota Cilegon 2019.

Dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk membeli alat, Iing berharap, ada keterlibatan industri atau pihak swasta di Kota Cilegon. Karena, bagaimanapun mereka dinilai berkontribusi atas apa yang terjadi di Kota Cilegon.

Ardi, salah satu warga Cilegon menilai, keberadaan alat itu sangat penting agar masyarakat bisa terlindungi dari ancaman bahaya polusi udara. “Saya tiap hari kerja pakai motor, kalau udaranya bahaya, bikin bahaya di jalan juga, bisa kecelakaan,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah bertanggung jawab atas segala potensi yang bisa terjadi di Kota Cilegon. Karena itu, untuk mengantisipasi hal buruk, pemerintah diharapkan melengkapi alat tersebut. “Di sinikan pabriknya banyak,” ujarnya.

Warga lainnya, Yulia Ningsih menuturkan, polusi udara tidak hanya mengancam orang dewasa, juga bayi. Menurutnya, penanganan polusi tidak bisa diabaikan.

“Motor, mobil, banyak, pabrik juga banyak. Kan banyak,” ujarnya. (bam/aas/ira)