Alat Rusak, Berita Acara ATC Tetap Diteken

Net. ILUSTRASI

SERANG – Sidang kasus dugaan korupsi pengadaan Air Traffic Control (ATC) Tahun 2004 senilai Rp 7,4 miliar terus dikebut. Kali ini empat terdakwa mantan pimpinan PT Angkasa Pura memberikan keterangannya Pengadilan Tipikor PN Serang, Senin (9/11/2015).

Keempatnya yakni Endar Muda Nasution mantan Manager Invetory Fixed Assed, Novaro Martodihardjo mantan Kepala Subdit Air Traffic Service, Susianto mantan Manager Elektronic Facility Planning dan Sutianto mantan Manajer Air Traffic Service Planning and Quality Assurance. Selain itu, sidang juga menghadirkan Reza Gunawan Direktur Utama PT Toska Citra Pratama selaku pemenang lelang juga memberikan keterangannya.

Menurut Novaro Martodiharjo ia ditunjuk oleh pimpinan selaku Inspektur Pengawas pada proyek ATC tersebut. Namun pada pelaksanaannya ia mengaku tidak menerima surat keputusan (SK) yang menyatakan sebagai inspektur pengawas dari Untung Widodo selaku Manager PT Angkasa Pura.

Selain itu pada pengadaan proyek ATC tersebut ia menyatakan tidak mengoreksi secara detail proyek yang dinyatakan total loss (kerugian total) oleh penyidik Kejagung RI. “Awalnya, saya tidak menerima SK, SK baru diterima setelah proses pekerjaan berlangsung. Tidak ada acuan dalam pengawasan. Saya tidak melakukan pengawasan secara detail tapi saya lihat barangnya,” katanya.

Sementara Endar Muda Nasution juga mengaku tidak menerima SK pengangkatan sebagai inspektur pengawas dari proses pekerjaan proyek ATC. SK diterima setelah  ia disodori dokumen proyek ATC yang sudah berjalan. “Tidak terima SK. Tahunya inspektur waktu disodori dokumen tes sudah berjalan, SK memang datang terlambang. Saya tidak lakukan pengawasan karena saya tidak tahu sebagai pengawas,” ujar Endar.

Terdakwa Endar mengatakan ia diberitahu Manager Untung Widodo untuk melakukan pemeriksaan barang. Namun saat ditugaskan pemeriksaan barang ia justru tidak melaksanakan tugasnya. “Yang menghadiri anggota saya (anak buah). Anggota bilang kalau alat simulator sudah bisa (berfungsi),” jelas Endar.

Meski tidak melakukan pengawasan, terdakwa Endar justru menandatangani berita acara pertama sehingga proyek tersebut bisa dicairkan sebesar 95 persen. Penanda tanganan tersebut ungkap Endar tidak lepas dari instruksi pimpinannya Untung Widodo.

“Saya tanda tangan berita acara pertama. Pada saat itu Pak Untung Widodo suruh saya tanda tangan. Sudah tanda tangan saja kata Pak Widodo,” ungkap Endar.

Meski dinyatakan total loss oleh penyidik Kejagung RI, terdakwa lain Sutianto yang ditunjuk sebagai pengawas pekerjaan mengaku ATC tersebut dapat difungsikan. “Saya dikirim ke Amerika, di sana diberi pelatihan. Diberi buku panduan, kemudian ATC difungsikan. Iya ATC-nya berfungsi,” kata dia.

Terdakwa lain Susianto Unit ST (Spesifikasi Teknis) menyatakan proyek ATC tersebut awalnya dianggarkan di tahun 2003 senilai Rp 9 miliar. Kemudian dilelang ditanda tangani direksi dan rekanan bulan Febuari tahun 2004 senilai Rp 7,4 miliar. Selama proses pengadaan ATC ia mengatakan terjadi keterlambatan pada waktu pengadaan sehingga pemenang meminta perpanjangan.

“Sampai bulan November nggak selesai, kami kirimi surat. Alasan tidak selesai karena ada perubahan kabel dan penundaan pemberangkatan ke Amerika. Mereka (PT PT Toska Citra Pratama) minta adendum 120 hari kami setujui 108 hari kalender,” ungkapnya.

Sementara itu, terdakwa Reza Gunawan Direktur Utama PT Toska Citra Pratama menampik ATC yang dibeli di Amerika tersebut tidak dapat difungsikan. Ia mengakatan saat menyerahkan ATC tersebut dapat difungsikan dengan baik. Namun ia tidak menampik pengadaan ATC molor dari jadwal karena beragam hal. (Wahyudin)