Alih Fungsi Lahan di Kota Cilegon Meluas

0
155

CILEGON – Memeringati Hari Tani Nasional, sejumlah mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan unjuk rasa di depan kantor Walikota Cilegon, Selasa (24/9). Mahasiswa menyoroti alih fungsi lahan pertanian yang semakin meluas di Kota Cilegon.

Mahasiswa yang terdiri dari organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cilegon, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cilegon, dan Ikatan Mahasiswa Cilegon (IMC) itu menilai kondisi alih fungsi lahan pertanian di Kota Cilegon tidak terkendali.

Koordinator Lapangan Aksi Muhammad Taufik Maulana menuturkan, saat ini di Kota Cilegon peralihan fungsi lahan pertanian terjadi sangat cepat dan luas. Lahan-lahan pertanian dialih fungsikan menjadi lokasi industri, permukiman, atau infrastruktur lain yang dibangun pemerintah.

Berdasarkan data yang dihimpun mahasiswa dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), pada tahun 2018 BPN mencatat lahan pertanian di Kota Cilegon seluas 1.715,15 hektare, kini jumlahnya berkurang menjadi 1.626,92 hektar.

“Artinya ada alih fungsi lahan pertanian seluas 88,23 hektare hanya dengan waktu satu tahun,” ujar Taufik di sela-sela aksi, Selasa (24/9).

Menurutnya, kondisi itu menunjukan agenda Cilegon Mandiri yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Cilegon tahun 2016-2021 tentang pertanian berbasis teknologi hanya menjadi pepesan kosong, tanpa ada bukti.

Selain itu, lanjutnya, hal itu pun menunjukkan kebijakan Pemerintah Kota Cilegon tidak sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Banten Nomor 5 tahun 2014 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

“Pada pasal 11 ayat (2) huruf (f) luas lahan pertanian pangan berkelanjutan Kota Cilegon paling kurang seluas 1.736 hektare akan tetapi  data luas lahan pertanian Kota Cilegon tahun 2019 hanya ada 1.626,92 hektare,” ujarnya.

Kondisi itu diperparah dengan banyaknya konflik-konflik lahan yang sampai saat ini belum diselesaikan, misalnya terkait pembangunan Jalan Lingkar Utara (JLU), serta lahan industri dengan nelayan, serta lahan pertanian terpadu yang masih belum terlihat. (Bayu Mulyana)