Aliri Sawah yang Terdampak Kekeringan, Petani Andalkan Pompanisasi

LEBAK – Petani di Kampung Panyandungan, Desa Binong, Kecamatan Maja, harus melakukan pompanisasi untuk mengairi sawah. Dua hari sekali petani di Panyandungan yang memiliki modal harus memompa air dari Sungai Cidalumpit dengan biaya kurang lebih Rp80 ribu.

Pantauan Radar Banten di lokasi, air dari sungai dialirkan dengan menggunakan pipa dari sungai ke tempat penampungan yang telah disediakan. Selanjutnya, air dari penampungan dialirkan kembali menggunakan mesin ke areal pesawahan milik Jamhur. Sementara itu, petani yang tidak punya modal untuk pompanisasi membiarkan sawahnya kering dan tanaman padinya mati.

Jamhur, menyatakan, sudah lebih dari sebulan melakukan pompanisasi dari Sungai Cidalumpit. Kondisi tersebut membuat tanaman padi miliknya tetap hijau dan kini sudah mulai berbuah. Dalam dua hari sekali, dia harus mengambil air dari sungai dan dialirkan ke sawah. Jika tidak maka sawahnya akan kering dan tanaman padinya bisa mati.

“Dua hari sekali harus dialiri air. Biayanya lumayan besar, yakni Rp80 ribu. Jadi biaya produksi untuk menanam padi di musim kemarau lebih mahal dan tentu saja memberatkan petani di sini,” kata Jamhur kepada wartawan, Selasa (30/7).

Jamhur mengatakan, lahan pesawahan masyarakat di Panyandungan dan Desa Binong pada umumnya sudah kering dan tanaman padinya banyak yang mati. Kondisi cuaca yang panas membuat petani tidak bisa menyelamatkan tanaman padinya tersebut. Apalagi, air baku di Sungai Cidalumpit sudah mulai menyusut. Sehingga tidak bisa diandalkan untuk pengairan sawah di wilayah Desa Binong.

“Areal pertanian di sini sudah banyak yang tidak teraliri air. Karena itu, kita minta kepada pemerintah membantu para petani dengan memberikan bantuan modal usaha pertanian kepada petani yang gagal panen,” ungkapnya. (Mastur)