Alumni ITB Rumuskan Strategi dan Sistem Pengelolaan Transportasi di Era New Normal

JAKARTA – Ikatan Alumni Teknik Industri ITB untuk ketiga kalinya berturut-turut selama tiga bulan terakhir, menyelenggarakan seminar daring dengan berbagai elemen masyarakat untuk membahas solusi dan strategi dunia industri menghadapi masa pandemi Covid-19 dan krisis ekonomi di Indonesia. Kali ini, topik yang diangkat adalah Lesson Learned & Strategi Industri Transportasi dan Logistik di Masa New Normal.

Acara webinar, 2 Agustus 2020, dibuka Ketua Umum IA TI ITB I Made Dana Tangkas (alumni TI’84). Dalam sambutan pembukaan dan sekaligus paparannya, Made Tangkas yang juga Presiden Institut Otomotif Indonesia dan Founder & CEO IBIMA, menyampaikan tujuan webinar ketiga ini, yaitu brainstorming dan sharing tentang solusi kebijakan dan strategi untuk mendukung industri transportasi dan supply-chain, yang sekaligus secara konsisten tetap menjaga ketat protokol kesehatan bagi masyarakat penggunanya.

Secara lebih teknis, Made yang juga Chairman Komite Tetap Industri Logam, Permesinan dan Alat Transportasi (Darat, Laut dan Udara) kemudian menyoroti kinerja industri yg merosot selama masa pandemi Covid-19, malah sebagian besar beroperasi hanya sekitar 20%-50%, peningkatan pengangguran dan jutaan tenaga kerja di PHK/dirumahkan serta jutaan UMKM & IKM yang tidak beraktivitas yang berimbas pada krisis ekonomi dan juga segera membutuhkan transformasi ekonomi, recovery dalam perspektif peningkatan demand & supply yang cepat serta tantangan untuk membantu industri membuka lapangan kerja dan penyiapan tenaga kerja (ahli) sesuai teknologi industri 4.0 yaitu dalam hal softskill, hardskill, business skill dan digital skill.

Sambutan kedua dari Ketua Umum Ikatan Alumni ITB Ridwan Jamaluddin (alumni Geologi ITB ’82), yang juga Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Kemaritiman dan Investasi. Ridwan menjelaskan tentang dukungan riil pemerintah terhadap industri kendaraan listrik nasional. Salah satunya dengan menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Secara operasional, hal tersebut diikuti dengan penyusunan peraturan-peraturan menteri terkait.

Webinar ketiga ini menampilkan tiga pemateri yang merupakan pakar di industri transportasi dan logistik. Pemateri pertama yaitu Agus Edi Sudiarto (alumni TI 84), selaku VP Corporate Planning PT. Kereta Api Logistik (Kalog). Agus menyampaikan dampak nyata dari Covid-19 terhadap jasa logistik antara lain turunnya pendapatan perusahaan akibat menurunnya permintaan pasar seperti angkutan batubara, angkutan containerized, pasar semen, dan lain-lain. Strategi Kalog menghadapi pandemi Covid-19 ini antara lain konsisten menerapkan protokol kesehatan & keselamatan, pengembangan kerjasama sinergis, pengembangan organisasi, penciptaan nilai sepanjang rantai pasok bisnis, pengembangan sistem informasi, dan peningkatan kompetensi SDM.

Pemateri kedua yaitu Adrianto Djokosoetono (alumni TI 95), yang saat ini adalah Direktur Utama PT. Blue Bird/Ketua Umum DPP Organda. Adrianto memaparkan dampak kerugian yang ditimbulkan corona terhadap industri transportasi darat Indonesia di mana Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) mengalami kerugian paling besar per bulannya (Rp 3,3 triliun ) di banding sektor transportasi darat lainnya (Angkutan Kota Antar Propinsi (AKAP), Antar Jemput Antar Propinsi (AJAP), Pariwisata, Taksi, Angkutan Kota (Angkot), dan Angkutan Lingkungan (Angling)). Total kerugian per bulan untuk semua industri transportasi darat diperkirakan mencapai Rp9 triliun.

Sektor ini mengharapkan dukungan dari pemerintah berupa relaksasi pajak, pinjaman, pengurangan Pajak Kendaraan Bermotor, relaksasi PNBP perizinan, pembayaran premi BPJS, dan BLT untuk pengemudi dan tunjangan kerja pendukung. Dari sekian tuntutan tersebut, hanya relaksasi pajak saja yang telah diterapkan secara penuh. Sementara untuk Pajak Kendaraan Bermotor, masing-masing pemda memberikan respons yang berbeda-beda.

Pemateri ketiga yaitu Veranita Yosephine (alumni TI 96), yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT. Indonesia Air Asia. Menurut Vera, merebaknya pandemi berdampak pada kelangsungan bisnis AirAsia Indonesia, di mana semua penerbangan AirAsia dihentikan sementara waktu selama periode hibernasi (1 April – 18 Juni 2020). Barulah pada tanggal 19 Juni 2020, AirAsia membuka penerbangan secara bertahap dengan diawali penerbangan Jakarta-Denpasar, Jakarta-Medan, Surabaya-Kuala Lumpur, dan Medan-Kuala Lumpur.

Menurut data BPS Indonesia, pada bulan Mei 2020, jumlah penumpang domestic menurun tajam 98,34% secara hitungan dari tahun ke tahun (year on year) sedangkan penumpang internasional turun 99.18% (year on year.). Selama proses pemulihan krisis dan memasuki new normal, keselamatan dan kesehatan karyawan dan penumpang menjadi prioritas utama AirAsia. Protokol kesehatan pun diterapkan dalam penerbangan (pengecekan staf, pembersihan kabin, social distancing penumpang) maupun dalam pelayanan dan setelah penerbangan (kontak minimal, pengungkapan segera, penghentian sementara pengarahan setelah penerbangan).

Diwawancarai secara terpisah, Radityo Harry Wibowo (alumni TI 97), selaku Sekjen IA TI ITB, menyampaikan bahwa rangkaian webinar IA TI ITB ini merupakan wujud kontribusi komunitas Teknik Industri berupa pemikiran atau gagasan solusi menghadapi krisis pandemi Covid19. (aas)